TikTok Bakal Kena Denda karena Langgar Regulasi Perlindungan Anak

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Uni Eropa bakal melakukan penyelidikan terhadap TikTok karena dianggap melanggar izin tentang perlindungan anak. 

Kepala industri Uni Eropa Therry Brenton mengambil keputusan tersebut setelah meninjau laporan penilaian akibat penggunaan TikTok dan respon TikTok terhadap permintaan info pengguna. Dikutip Reuters, jika terbukti melanggar, TikTok bakal dikenakan hukuman denda.

Sanksi denda ini dijatuhkan berasas Undang-Undang Layanan Digital Uni Eropa (DSA) nan telah bertindak untuk semua platform online mulai tanggal 17 Februari.

Sekadar informasi, undang-undang tersebut meminta agar platform digital besar dan search engine mengambil tindakan tambahan untuk memerangi konten terlarang dan melindungi keselamatan pengguna.

Sebelumnya, Apple telah mengalami nasib nan nyaris serupa dengan TikTok. Uni Eropa menuding Apple telah melakukan "perdagangan nan tidak sehat" dengan memonopoli pasar jasa streaming.

Kalau Apple terbukti bersalah, Uni Eropa bakal memberikan denda sebesar USD 539 juta alias setara Rp 8,4 triliun pada Apple.

Dikutip dari PhoneArena, Kamis (22/2/2024), andaikan TikTok terbukti melanggar peraturan nan tertuang di DSA, ByteDance, selaku perusahaan induk berpotensi terkena denda TikTok hingga enam persen dari pendapatan dunia ByteDance.

Statistik menunjukkan bahwa TikTok meraup pendapatan sekitar USD 9,4 miliar pada tahun 2023.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

TikTok Terancam Denda hingga Rp 7,8 Triliun

Jika TikTok terbukti melanggar peraturan DSA, TikTok berpotensi dijatuhi denda sekitar USD 500 juta alias setara Rp 7,8 triliun.

TikTok menyatakan, mereka tetap berkomitmen untuk bekerja-sama dengan para mahir dan memastikan keamanan generasi muda di platform tersebut.

ByteDance juga menyatakan kesiapannya untuk memberikan penjelasan secara rinci mengenai upayanya terhadap Komisi Eropa.

"TikTok telah menjadi pelopor dalam fitur dan pengaturan untuk melindungi remaja dan melarang pengguna berumur dibawah 13 tahun untuk menggunakan platform ini," kata ahli bicara TikTok.

Komisi Eropa menyebut bahwa penyelidikan bakal menelusuri sistem kreasi TikTok, termasuk algoritmanya.

Algoritma TikTok selama ini dinilai mendorong perilaku adiktif pada penggunanya dan "efek lubang kelinci." Apa itu?

Efek Lubang Kelinci nan Ditimbulkan oleh TikTok

Efek lubang kelinci adalah sebuah metafora nan menggambarkan kejadian dari seseorang nan terlalu enak-enak bakal sesuatu.

Biasanya orang nan berada di fase pengaruh lubang kelinci sampai lupa waktu hingga mengabaikan tanggung jawab lainnya.

Istilah ini sering digunakan dalam konteks penggunaan internet khususnya sosial media, di mana algoritma dan strategi keterlibatan pengguna dalam pemakaian aplikasi dapat membikin pengguna mengeklik konten mengenai nan disukai selama berjam-jam.

Sebagai referensi, penelitian menunjukkan bahwa hanya dengan ponsel Android, pengguna bisa menghabiskan 2,3 triliun jam di media sosial pada tahun 2023. TikTok menjadi aplikasi sosial media paling dikunjungi.

Komisi Eropa bakal memeriksa apakah TikTok telah menetapkan langkah-langkah nan sesuai dengan proporsional untuk melindungi privasi, keselamatan, dan keamanan bagi pengguna dibawah umur.

Terlepas dari kekhawatiran untuk melindungi anak dibawah umur, Komisi Eropa sedang memeriksa apakah TikTok menawarkan pedoman info iklan nan bisa diandalkan di platform mereka, nan memungkinkan peneliti untuk menganalisis potensi akibat dalam bersosial media.

TikTok Menjadi Aplikasi Sosial Media dengan Pertumbuhan Paling Cepat

Di sisi lain, Tiktok telah menjadi sosial media dengan pertumbuhan paling cepat, demikian menurut sebuah survei dari Pew Research Center.

Dikutip dari Engadget, Kamis (21/2/2024), dalam survei tersebut sepertiga dari orang dewasa mengaku telah menggunakan TikTok sebagai aplikasi media sosial pilihan.

YouTube menjadi platform nan paling banyak digunakan, dengan 83 persen responden melaporkan bahwa mereka pernah menggunakannya. Sementara itu, 68 persen responden dilaporkan menggunakan Facebook.

TikTok juga menunjukkan pertumbuhan pengguna nan paling menonjol, jika dibandingkan dengan aplikasi sosial media lain. Di mana pengguna aktif TikTok melonjak 12 poin dari 21 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Karena lonjakan pengguna TikTok nan semakin pesat, jumlah pengguna sosial media lain menurun. Misalya, pengguna X mengalami penurunan sedikit dalam dua tahun terakhir, sebesar 23 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa TikTok menjadi aplikasi sosial media dengan perkembangan tercepat.

Infografis Upaya Pemilik TikTok Yakinkan Pemerintah AS

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Teknologi LP6
Teknologi LP6