Teten Serahkan Tongkat Estafet Revisi UU Perkoperasian ke Pemerintahan Prabowo-Gibran

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah tengah merevisi Undang-Undang (UU) Perkoperasian. Namun meskipun sudah dikebut, revisi UU Perkoperasian ini sepertinya tidak bakal selesai pada pemerintahan saat ini. Oleh karena itu Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki bakal menyerahkan tongkat estafet revisi UU Perkoperasian pada pemerintahan selanjutnya.

"Karena waktunya sudah sangat pendek, tidak mungkin. Tapi kan Surpres (Surat Presiden) sudah turun, jadi silakan akhirnya dilanjutkan saja oleh Pemerintahan nan bakal datang," ujar Teten Masduki dikutip dari Antara, Senin (10/6/2024).

Revisi UU Perkoperasian mempunyai beberapa kendala, di antaranya adalah tetap banyak pelaku koperasi nan tidak mau ada perubahan alias sudah berada di area nyaman. Perubahan dalam UU Perkoperasian sangat diperlukan agar koperasi mempunyai pengaruh nan besar bagi perekonomian nasional.

"Mereka sudah masuk dalam area nyaman, ya tidak mau ada peningkatan pengawasan koperasi, terutama misalnya di koperasi simpan pinjam," katanya.

Diketahui, revisi UU Perkoperasian terhadap perubahan ketiga terhadap UU Nomor 25 Tahun 1992 dinilai sangat krusial lantaran UU mengenai koperasi sudah lama dibiarkan terbengkalai dan tidak dibenahi. Padahal koperasi memegang predikat sebagai soko pembimbing perekonomian nasional.

Salah satu perihal krusial dalam revisi undang-undang koperasi mengenai pengawasan nan tetap berkarakter internal dan Kementerian Koperasi dan UKM nan tidak mempunyai kewenangan dalam mengawasi.

Diusulkan adanya pengawasan eksternal lampau ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk koperasi.

Upaya meningkatkan peranan koperasi terhadap perekonomian nasional, salah satunya dengan memperbanyak koperasi multi pihak nan mengintegrasikan koperasi untuk terlibat dalam rantai produksi dari hulu hingga hilir. Dalam rentang waktu satu tahun, KemenKopUKM telah sukses mewujudkan 106 koperasi multi pihak dari beragam sektor.

Pada 2024, KemenKopUKM juga bakal mendorong penerapan dari Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) nan mengatur mengenai koperasi open loop dan close loop.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Riset: Cuma 40% Koperasi nan Ramah Anak Muda

Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) mencatat berasas hasil survei secara demografis personil koperasi dari Generasi Z sangat rendah komposisinya, hanya 6 persen. Artinya hanya ada 6 dari 100 anggota koperasi yang berumur 12-27 tahun di koperasi.

Hal itu disampaikan Ketua Komite Eksekutif ICCI Firdaus Putra, HC dalam Webinar Research Expose berjudul Koperasi dan Generasi Muda, Rabu (24/4/2024).

Webinar tersebut mengupas hasil jajak pendapat “Identifikasi Program Penjangkauan dan Pengembangan Generasi Muda pada Koperasi” nan dilaksanakan bulan Maret sebelumnya. “Tahun 2022 kami melakukan survei dengan 614 responden koperasi tentang Status SDM Koperasi. Menemukan secara demografis personil koperasi dari Generasi Z sangat rendah komposisinya, hanya 6 persen," kata Firdaus.

Hal tersebut kontras dengan memandang demografi Indonesia justru didominasi Generasi Y (25%) dan Z (27%). Jika dibandingkan dengan pengguna internet dan pengguna bank digital, grafiknya selaras dengan perubahan demografi.

"Nah, demografi personil koperasi rupanya selaras dengan sektor pertanian, di mana petani Generasi Z sangat rendah (2%). Jadi koperasi dengan pertanian mengalami masalah serupa, ancaman involusi SDM," ujarnya. Lebih lanjut, hajak pendapat dilakukan untuk mengidentifikasi program penjangkauan dan pengembangan generasi muda pada koperasi. Alvita Arnisa, Anggota Jaringan Inovator Koperasi (JIK), memaparkannya di hadapan 222 peserta.

"Sebanyak 93% responden menyatakan pengembangan generasi muda sangat krusial dilakukan. Artinya 9 dari 10 orang mempunyai padangan serupa. Namun hanya 39,5% koperasi nan menyatakan sudah mempunyai program tersebut," ujarnya.

Jajak pendapat itu diikuti oleh 159 responden nan berasal dari 28 provinsi berbeda. Jajak pendapat juga mengidentifikasi lima bauran program nan dinilai responden paling feasible dikerjakan koperasi.

Pada isu employment adalah gimana koperasi mengembangkan kerjasama B2B dengan bisnis-bisnis anak muda. Pada rumor entrepreneurship, responden menilai bahwa koperasi perlu menyelenggarakan inkubasi alias pendampingan bisnis.

Generasi Muda sebagai Kader

Selain itu pada rumor equalities, ialah gimana koperasi perlu memerankan generasi muda sebagai kader. Education, responden menilai bahwa sosialisasi alias penyuluhan perlu diberikan kepada generasi muda. Terakhir pada rumor engagement, koperasi perlu menggunakan media sosial secara intensif agar terakses oleh generasi muda.

Merespon temuan tersebut, Mohit Dave, Head of Partnership & Resource Mobilization International Cooperative Alliance Asia Pasifik, mengatakan, Riset ICA tentang Young People and Cooperatives: A Perfect Match? Global Thematic Research Report (2021), menyatakan hanya 40% koperasi di Indonesia nan mempunyai hubungan dengan generasi muda.

"Nampaknya temuan ICCI di atas sama dengan riset ICA sebelumnya," ujar Mohit.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6