Termasuk Indonesia, 8 Negara Berkembang Ini Kebut UMKM Naik Kelas

Sedang Trending 6 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Koperasi dan UKM berbareng organisasi 8 negara berkembang (Developing 8 Countries/D-8) gandengan untuk meningkatkan kapasitan koperasi dan UMKM. Ada sejumlah program prioritas nan dikebut agar upaya tersebut bisa naik kelas.

Sekretaris Kemenkop dan UKM Arif Rahman Hakim menerangkan kerja sama ini diharapkan dapat memberikan faedah besar bagi kesejahteraan bagi masyarakat khususnya pelaku UMKM dan koperasi negara personil D-8.

“Ini sangat baik untuk kita tindaklanjuti. Karena ini bakal memberikan banyak faedah bagi negara personil D-8. Masing-masing negara mempunyai kelebihan dan potensi,” kata dia dalam keterangannya, Senin (20/11/2023).

Turut datang delegasi dalam pertemuan tersebut, Director I Administrative, Legal and Internal Issues D-8 Ahmar Ismail, Director II Economy Implementation and External Relations D-8 Punjul Nugraha dan Diplomat Ahli Pertama Kementerian Luar Negari Pragusdiniyanto Soemantri.

Kelompok D-8 Negara Berkembang (disingkat D-8, Developing 8 Countries) mencakup delapan negara berkembang nan mempunyai kebanyakan masyarakat berakidah Islam nan berambisi mempererat kerja sama dalam pembangunan. Anggotanya mencakup Bangladesh, Indonesia, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, dan Turki.

“Kami mempunyai beberapa program prioritas. Untuk upaya mikro kami memperkuat legalitas usaha, UKM memperkuat rantai pasok, sedangkan koperasi kami sorong untuk menjadi koperasi modern dan untuk wirausaha, kami menargetkan terciptanya 1 juta wirausaha baru,” ujar Arif.

Maka, kata Arif, menjadi krusial dalam kerja sama nan bakal dijajaki oleh organisasi D-8, untuk berganti info mengenai pemberdayaan koperasi dan UMKM, nan telah dilakukan oleh negara personil D-8.

“Menjadi krusial dalam perihal ini untuk sharing knowledge, berganti info untuk memajukan UMKM dan koperasi bagi para negara personil D-8. Saya meyakini masing-masing negara punya pengalaman nan sangat baik dalam mengimplementasikan kebijakan,” ucapnya.

Libatkan Indonesia

Pada kesempatan nan sama, Sekjen D-8 Isiaka Abdulqadir Imam mengatakan, organisasi D-8 juga bakal konsentrasi pada pengembangan UMKM dengan melibatkan seluruh personil D-8 termasuk Indonesia.

“UMKM mempunyai peranan krusial dalam pengembangan ekonomi di seluruh negara D-8. Bahkan di Indonesia, 99 persen pelaku upaya didominasi pelaku UMKM. Saya menyambut baik untuk segera menyelenggarakan pertemuan pertama pada tahun 2025,” kata Isiaka Abdulqadir Imam.

Ia juga menargetkan, pada tahun 2030 perdagangan produk UMKM antar negara D-8 dan di pasar dunia dapat menyentuh nomor 500 miliar dolar AS.

“Pengembangan UMKM pada personil D-8 menjadi sektor nan krusial untuk ditingkatkann, dan ini menjadi krusial untuk menyejahterakan masyarakat,” ujar Isiaka Abdulqadir Imam.

Jajaki Kerja Sama dengan Afrika Selatan

Diberitakan sebelumnya, Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki menyambut baik kehadiran delegasi upaya dari Afrika Selatan untuk menjajaki kesempatan kerja sama dalam mengembangkan UMKM antara Indonesia dengan Afrika Selatan, di Jakarta, Kamis (26/10/2023).

Hadir dalam pertemuan tersebut Deputi Bidang UKM Hanung Harimba, Deputi Kewirausahaan, Siti Azizah; Direktur Utama Smesco Indonesia Leonard Theosabrata; serta Yehezkiel Dearma Damanik dari KADIN Indonesia.

Sementara itu delegasi upaya Afrika Selatan diwakili oleh Sipho Shoba dari Wholesale and Retail Sector Education and Training Authority (SETA), serta Maanda Tshifularo dari Gordon Institute of Business Science (GIBS) University of Pretoria.

MenKopUKM mengungkapkan, Afrika Selatan mempunyai potensi nan sangat besar sebagai pasar ekspor pada sektor manufaktur Indonesia, selain jalur perdagangan pada negara lain nan sudah stabil seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China.

"Banyak potensi nan bisa dikerjasamakan antara Indonesia dengan Afrika Selatan, seperti kemitraan rantai pasok, akses pemasaran, transfer riset dan teknologi, hingga meningkatkan strategi kebijakan ekspor," kata MenKopUKM.

Ekspor Indonesia ke Afrika Selatan

Nilai ekspor Indonesia untuk Afrika Selatan sendiri mencapai nomor 1 juta dolar AS pada 2022, dengan beberapa sektor nan sangat menjanjikan seperti produk-produk berbasis sawit, sabun, kopi, kendaraan bermotor, pipa, saus, kertas, hingga barang-barang berbahan karet.

Menteri Teten mengatakan, sebagai upaya meningkatkan ekspor Indonesia, SMESCO Indonesia telah membangun Smesco Hub Timur nan berlokasi strategis di Nusa Dua, Bali, nan juga dikenal sebagai "Gateway to The East", dan diproyeksikan untuk menjadi pusat inovasi, kolaborasi, dan tempat bagi para wirausaha maupun investor.

"Untuk memastikan kesuksesan dan pertumbuhan UMKM nan berkelanjutan, krusial bagi kami untuk memberikan support maupun menyediakan beragam sumber daya nan mereka butuhkan," ujar Menteri Teten Masduki.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6