Sistem 4 Hari Kerja Bisa Diterapkan Sektor Non-Esensial Dulu

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Sistem kerja 4 hari dalam seminggu tengah menjadi perbincangan luas di antara masyarakat. Usulan itu disampaikan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menyebut, sistem kerja 4 hari tersebut telah ditetapkan di Jerman mulai 1 Februari 2024. Menurutnya, sistem tersebut bisa mendongkrak produktivitas para pekerja, dan bisa diujicoba di wilayah Jabodetabek.

"Bagaimana jika perihal serupa juga diterapkan di Jakarta, dan Bodetabek?" kata Tulus, dikutip Senin (12/2/2024).

Tulus menilai, penambahan waktu libur kerja 1 hari itu juga bakal turut berkontribusi terhadap nomor penyebaran polusi di Jabodetabek.

Dalam keterangan terpisah, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat, sistem 4 hari kerja dalam seminggu merupakan langkah nan positif. Bhima mengatakan, sistem tersebut dapat di coba berlakukan di sektor non-esensial terlebih dahulu, terutama di pekerja sektor jasa.

“Selama bukan sektor non-esensial seperti kesehatan, pemadam kebakaran, kemudian jasa masyarakat maka boleh saja dicoba sistem 4 hari kerja,” kata Bhima kepada Liputan6.com dalam pesan singkat pada Senin (12/2/2024).

Menurutnya, akibat positif 4 hari kerja sudah bisa dilihat dalam banyak studi di beragam negara. Dampak positif ini di antaranya adalah tingkat stres pekerja nan menurun, produktivitas meningkat, dan waktu nan dihabiskan dengan family meningkat.

Adapun support pada permintaan untuk sektor rekreasi / pariwisata nan berpotensi naik hingga mendorong kualitas ekonomi nan lebih baik.

“ Pemerintah dan pelaku upaya sebaiknya mulai menerapkan wacana ini di beberapa perusahaan untuk di kaji akibat positif negatifnya,” imbuh Bhima.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Hal Penting nan Perlu Diperhatikan

Namun Bhima juga menambahkan, jika sistem 4 hari kerja diberlakukan, Pemerintah perlu memastikan pengaturan soal bayaran minimum tidak berubah.

“Jangan sampai perubahan hari membikin bayaran minimum jadi lebih rendah, padahal produktivitas nan dihasilkan sama,” jelasnya.

Ia juga berambisi agar Pemerintah melakukan sosialisasi ke pelaku upaya sehingga tidak menimbulkan celah PHK sepihak dengan adanya sistem 4 hari kerja.

YLKI Usul Indonesia Tiru Sistem Kerja 4 Hari Jerman: Warga Lebih Bahagia dan Produktif

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengusulkan agar pemerintah menerapkan sistem kerja nan dipakai Jerman, ialah 4 hari dalam 7 hari alias sepekan.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menilai, sistem kerja 3 hari libur tersebut telah ditetapkan Jerman mulai 1 Februari 2024. Menurut dia, kebijakan 4 hari kerja bisa mendongkrak produktivitas para pekerja.

"Per 1/2/2024, Jerman menerapkan uji coba sistem 4 hari kerja. Tujuannya agar pekerja lebih senang dan produktif," tulis Tulus dalam status WA miliknya, Jumat (9/2/2024).

Tulus lantas mengusulkan agar sistem kerja 4 hari tersebut bisa diujicoba di wilayah Jabodetabek, nan saat ini tetap jadi patron dari aktivitas dan ekonomi di lingkup nasional.

"Bagaimana jika perihal serupa juga diterapkan di Jakarta, dan Bodetabek?" usul dia.

Menurut pertimbangannya, penambahan waktu libur kerja 1 hari itu juga bakal turut berkontribusi terhadap nomor penyebaran polusi di Jabodetabek. Sekaligus memberi waktu lebih banyak bagi para pekerja asal wilayah untuk bisa pulang ke kampung halamannya masing-masing.

"Bukan hanya agar warganya lebih senang dan produktif, tapi juga lingkungan di Jakarta dan Bodetabek agar beristirahat sejenak dari pemanfaatan dan polusi (udara, suara, air, tanah)," ungkapnya.

"Karena warganya bakal otw pulkam, wisata, mudik, dan lain-lain. Setuju?" pungkas Tulus. 

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6