Selain Sopir, Perusahaan hingga Pengusaha Bus Pariwisata Nakal Bakal Dibuat Jera

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi berbareng Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Aan Suhanan, dan para master transportasi dan pengurus Organisasi Angkutan Darat (Organda) merapatkan barisan untuk mengevaluasi operasi bus pariwisata.  

Menhub Budi menyampaikan langkah-langkah nan bakal ditempuh untuk memberikan rasa jera pada pelaku pelanggaran peraturan, khususnya pada pikulan darat nan menakut-nakuti keselamatan penumpang. Seperti pada kecelakaan Bus Trans Putera Fajar nan terjadi di Subang, Jawa Barat pada 11 Mei 2024. 

"Dalam jangka pendek, kami bakal melakukan penegakan norma dengan pasal-pasal dan penyelidikan nan benar. Sehingga bukan saja supir nan salah, tetapi kudu ada pihak lain nan turut bertanggung jawab," tutur Menhub dalam keterangan tertulis, Kamis (16/5/2024).

Selanjutnya, sebagai upaya sistematis dan terukur, Kemenhub berbareng Korlantas Polri dan pemangku kebijakan mengenai bakal membentuk proyek percontohan di enam provinsi ialah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara. 

Tujuannya untuk dilakukan pendataan, evaluasi, dan sosialisasi keselamatan bus pariwisata dan bus umum, termasuk prosedur ramp check.

"Kami sudah sepakat berbareng Korlantas Polri, Dinas Perhubungan, dan Organda untuk melakukan pendataan dan evaluasi. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) nan mempunyai personil hingga tingkat provinsi juga memberikan dukungan," lanjut Menhub.

Kakorlantas Polri Irjen Pol Aan Suhanan mengatakan, para master telah memberikan banyak masukan dan rekomendasi mengenai upaya meningkatkan keselamatan bus umum dan bus pariwisata. Sejalan dengan masukan para pakar, penyelidikan kasus kecelakaan bus pariwisata bakal dilakukan secara teliti dan penuh kehati-hatian. 

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Penegakan Hukum Dilakukan Menyeluruh

"Semua nan terlibat dalam peristiwa kecelakaan lampau lintas seperti di Subang bakal kita periksa. Artinya si pengusaha hingga perusahaan karoseri, lantaran ada indikasi perubahan corak dimensi dari deck biasa menjadi high deck, itu juga kemungkinan ada pasalnya serta bakal diterapkan di kasus tersebut," ia menambahkan.

Korlantas Polri berbareng dengan Ditlantas, Kasatlantas serta stakeholder perhubungan nan ada di wilayah baik kabupaten, kota maupun provinsi, bakal bekerja-sama untuk menangani bus pariwisata maupun bus umum nan ada. 

"Mulai dari hulu, alias mulai dari pool bus nan ada di kota/kabupaten sampai dengan ke hilir, artinya penegakan norma di jalan. Ini bakal kita lakukan secara bersama-sama. Di luar enam provinsi tadi juga bakal kita lakukan di seluruh Indonesia," papar Aan. 

Kecelakaan Bus di Subang, Polisi Sebut Kemungkinan Ada Tersangka Baru

Sebelumnya, Polisi telah menetapkan pengemudi bus Trans Putera Fajar atas nama Sadira sebagai tersangka kasus kecelakaan di Jalan Raya Kampung Palasari, Ciater Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Adapun, dalam kejadian maut ini 11 orang dilaporkan meninggal dunia. Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Aan Suhanan mengungkapkan, kemungkinan adanya tersangka lain di dalam kasus ini.

Apalagi, setelah mendapatkan masukan dari para norma nan pada intinya investigasi nan dilakukan kudu teliti dan penuh kehati-hatian.

"Artinya semua nan terlibat dalam peristiwa kecelakaan lalulintas seperti nan di Subang, itu semua bakal kita periksa ya. Dan sangat memungkinkan ya ini nan ada keturut sertaan terhadap peristiwa tersebut, ini juga bakal dimintai pertanggungjawaban sebagai nan bertanggung jawab terhadap terjadinya peristiwa kecelakaan tersebut," kata dia kepada wartawan, Rabu (15/5/2024).

Aan mengatakan, investigasi bakal dikembangkan entah itu ke pegusaha bus alias karoseri. Karena ada indikasi ada perubahan rancang bangun.

"Itu juga kemungkinan ada pasal nan bakal kita terapkan di kasus tersebut," ucap dia.

Karena itu, Aan mengatakan potensi penambahan tersangka kasus kecelakaan nan melibatkan pelajar SMK Lingga Kencana Depok ini terbuka, tergantung dari fakta-fakta norma nan ada.

"Kita tidak mengarahkan tapi bakal ada kebenaran norma nan mengarah kepada para pengusaha, kita akan, investigasi bakal diarahkan ke sana," ujar dia.

"Kemudian untuk perubahan corak bus tadi itu ada Pasal 270 kelak bakal jugakita terapkan disitu, karoseri kemudian juga pengusaha kita terapkan pasal itu. Jadi bisa saja terus bertambah," menandaskan.

Tujuh Korban Kecelakaan Bus SMK Lingga Kencana Masih Penanganan ICU di RS UI

Sebelumnya, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RS UI) tetap melakukan penanganan korban kecelakaan bus rombongan SMK Lingga Kencana, Depok. RS UI bakal berupaya maksimal untuk memulihkan korban kecelakaan bus nan terjadi di Subang, Sabtu (11/5/2024).

Direktur Utama RS UI, Astuti Giantini mengatakan, pihaknya sedang berupaya memulihkan kondisi kesehatan korban. Sebanyak tujuh pasien tetap dilakukan penanganan intensif di RS UI.

“Jumlah pasien nan dirawat di RS UI ada tujuh, semuanya mengalami operasi,” ujar Astuti, Selasa (14/5/2024).

Astuti menjelaskan, korban kecelakaan bus rombongan SMK Lingga Kencana memerlukan tindakan operasi. Tim master RS UI berupaya melakukan tindakan operasi mulai pukul 07.00 WIB hingga 03.00 WIB, alias hari keesokannya.

“Jadi semua pasien tetap berada di ruang ICU, saya minta doanya mudah-mudahan segera diberi kesembuhan, segera diberi perbaikan itu nan kami harapkan,” ucap Astuti.

RS UI belum dapat memindahkan para korban dari ruangan ICU ke ruangan perawatan. Hal itu dikarenakan kondisi korban kecelakaan bus rombongan SMK Lingga Kencana dalam katagori luka berat.

“Kondisinya rata-rata berat, menurut saya semuanya memang perlu dilakukan observasi di ICU,” ujar Astuti.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6