Produksi Minyak Dunia 2024 Bakal Surplus Meski OPEC Pangkas Produksi

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Pasar minyak dunia diprediksi bakal mengalami sedikit surplus pasokan pada 2024, meski negara-negara OPEC+ memperpanjang pengurangan produksi mereka.

Hal itu diungkapkan kepala bagian pasar minyak dan industri Badan Energi Internasional (IEA), Toril Bosoni.

"Namun saat ini, pasar minyak berada dalam defisit dan stok menurun dengan cepat," kata Toril Bosoni di sela-sela konvensi di Oslo, dikutip dari Channel News Asia, Rabu (22/11/2023).

"Stok minyak dunia berada pada level rendah, nan berfaedah Anda berisiko mengalami peningkatan volatilitas jika ada kejutan baik di sisi permintaan maupun penawaran," bebernya.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, nan dikenal sebagai OPEC+, bakal mempertimbangkan apakah bakal melakukan pengurangan pasokan minyak tambahan ketika golongan tersebut berjumpa akhir bulan ini.

Harga minyak bumi telah turun menjadi sekitar USD 82 per barel untuk minyak mentah Brent dari level tertinggi tahun 2023 pada bulan September nan mendekati USD 98.

Kekhawatiran terhadap permintaan dan kemungkinan surplus tahun depan telah menekan harga, meskipun ada support dari pemotongan produksi OPEC+ dan bentrok di Timur Tengah.

Seperti diketahui, Arab Saudi, Rusia, dan personil OPEC+ lainnya telah memutuskan pemangkasan total produksi minyak sebesar 5,16 juta barel per hari, alias sekitar 5 persen dari permintaan dunia harian, dalam serangkaian langkah nan dimulai pada akhir tahun 2022.

Pemotongan tersebut mencakup 3,66 juta barel per hari oleh OPEC+ dan tambahan pemotongan sukarela oleh Arab Saudi dan Rusia.

Pada pertemuan kebijakan terakhirnya pada Juni 2023, OPEC+ menyetujui kesepakatan luas untuk membatasi pasokan hingga tahun 2024 dan Arab Saudi menjanjikan pengurangan produksi sukarela pada bulan Juli sebesar 1 juta barel per hari nan kemudian diperpanjang hingga akhir tahun 2023.

Harga minyak mentah berjangka Brent turun 35 sen, alias 0,4 persen, menjadi USD 81,97 per barel pada Selasa (21/11), sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS turun 36 sen, alias 0,5 persen, menjadi USD 77,47.

Harga Minyak Dunia Hari Ini Meroket, Brent Sentuh USD 80 per Barel

Harga patokan minyak mentah Brent berhujung di atas USD 80 per barel pada hari Kamis (Jumat wakltu Jakarta). Harga minyak dunia melonjak setelah kekhawatiran permintaan dan memudarnya premi akibat perang memicu tindakan jual awal pekan ini.

Dikutip dari CNBC, Jumat (10/11/2023), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup pada USD 80,01 per barel, naik 47 sen alias 0,59%. Sedangkan nilai minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berhujung pada USD 75,74 per barel, naik 41 sen alias 0,54%.

Pada akhir perdagangan Kamis, komentar Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell nan mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku kembang di masa depan mengguncang angan pasar saham dan minyak mentah bakal permintaan nan kuat.

"Ada halangan ekonomi makro nan mempengaruhi pasar saat ini," kata John Kilduff, Mitra Again Capital LLC.

Fundamental pasar mendominasi sentimen pedagang sepanjang hari Kamis lantaran kekhawatiran bakal gangguan pasokan di Timur Tengah telah mereda, kata Jim Burkhard, wakil presiden dan kepala penelitian pasar minyak di S&P Global Commodity Insights.

"Permulaan perang Israel-Hamas memang memicu volatilitas dan membawa akibat tambahan, namun perihal itu tidak mempengaruhi esensial pasar minyak," kata Burkhard.

"Harga minyak tetap di bawah nilai pada akhir September, seminggu sebelum serangan Hamas. Fundamental pasar minyak nan kuat mengatasi segala ketakutan saat ini."

Harga Minyak Brent

Sedangkan nilai minyak Brent turun nyaris USD 20 per barel dari nilai tertingginya di bulan September.

Data dari Tiongkok pada hari Kamis menunjukkan para pengambil kebijakan kesulitan mengendalikan disinflasi, sehingga menimbulkan keraguan atas kesempatan pemulihan ekonomi secara luas di negara konsumen komoditas terbesar bumi tersebut.

Pada awal minggu ini, info bea cukai menunjukkan bahwa total ekspor peralatan dan jasa China mengalami kontraksi lebih sigap dari perkiraan.

Permintaan Minyak

Indikator permintaan juga menyiratkan kelemahan di Amerika Serikat. Persediaan minyak mentah AS meningkat 11,9 juta barel selama seminggu hingga 3 November, kata sumber nan mengutip nomor American Petroleum Institute.

Jika terkonfirmasi, nomor ini bakal mewakili kenaikan mingguan terbesar sejak Februari. Namun, Administrasi Informasi Energi (EIA) AS telah menunda rilis info persediaan minyak mingguan hingga 15 November untuk peningkatan sistem.

Namun, pasar dunia optimis pada hari Kamis lantaran kepercayaan bahwa bank sentral utama telah menyelesaikan  kenaikan suku bunga mereka. Suku kembang nan tinggi meningkatkan biaya pinjaman, sehingga mengurangi permintaan di pasar, termasuk minyak.

Baik OPEC dan Badan Energi Internasional (IEA) bakal menyampaikan pandangan mereka mengenai keadaan esensial permintaan dan pasokan minyak minggu depan.

OPEC bakal berjumpa pada akhir bulan ini untuk membahas kebijakan produksi untuk tahun 2024.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6