PLN Group Target Co-firing Biomassa Kontribusi 3,6% ke Bauran EBT 2025

Sedang Trending 6 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus meningkatkan co-firing, ialah penggunaan biomassa sebagai subtitusi batu bara nan menjadi bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), untuk mencapai sasaran bauran daya baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025.

Vice President Pengembangan Bisnis, Pemasaran & Perencanaan Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) Anita Puspita Sari menjelaskan, penerapan co-firing biomassa sangat kompetitif dilakukan dalam mengejar sasaran dekarbonisasi di Indonesia. Sebab, co-firing biomassa mempunyai Levelized Cost of Electricity (LCOE) terendah dibanding percepatan ke EBT lainnya.

“Co-firing biomassa berkontribusi sebesar 3,6% dari total sasaran bauran EBT 23% di tahun 2025. Langkah ini sangat kompetitif untuk dilakukan, mengingat LCOE-nya terendah dibanding EBT lain seperti daya surya, air, angin, geothermal, serta daya terbarukan lainnya,” kata Anita, dikutip, Kamis (23/11/2023).

Anita menuturkan, tak hanya biayanya nan paling rendah. Namun nan lebih krusial adalah, penerapan co-firing dapat berkontribusi signifikan dalam menggerakkan perekonomian nasional dengan menciptakan lapangan kerja bagi bagi masyarakat lokal tanpa kudu menghentikan PLTU nan existing.

”Masyarakat lokal bakal memainkan peran krusial dalam perihal ini menyediakan bahan baku biomassa. Jadi ini bakal banyak membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sejalan dengan prinsip ESG nan (Environmental Social and Government) nan kami jalankan,” lanjut Anita.

Perubahan Iklim

Apalagi kata Anita, sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim, kebutuhan biomassa ke depan makin meningkat tajam. Total 10,2 juta ton biomassa dibutuhkan hingga tahun 2025 mendatang.

”Sejalan dengan komitmen Pemerintah dalam mengejar sasaran co-firing pada tahun 2025, PLN memerlukan biomassa sebesar 10,2 juta ton untuk menyediakan energi bersih sebesar 11.8 Terawatt hour (TWh). Kebutuhan ini meningkat tajam alias sebesar 300% hingga tahun 2025 mendatang,” papar Anita

Kebutuhan Biomassa

Perencana Strategis dan Analis Rantai Pasokan PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Akhmad Kunio Fadlullah Pratopo menuturkan, guna memenuhi kebutuhan biomassa nan terus meningkat, pihaknya secara garang terus mengembangkan ekosistem biomassa dengan menggandeng organisasi lokal mau pun upaya mikro mini (UMK) nan berada di sekitar letak sumber biomassa berada.

”Baru-baru ini misalnya, kami bekerja sama dengan Kesultanan DI Yogyakarta dalam mengembangkan Green Economy Village (GEV) untuk mendukung langkah NZE 2060 berasas keterlibatan masyarakat lokal. Tujuan utama Pengembangan GEV adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal sekaligus mengurangi emisi CO2 dari menggunakan pupuk organik dan menyediakan biomassa untuk proses co-firing biomassa pembangkit listrik,” jalas Kunio.

Namun demikian, Kunio mengatakan saat ini keberadaan biomassa tetap terbilang lebih mahal dibanding nilai batu-bara. Sehingga menurutnya support dari sisi izin sangat dibutuhkan dalam memasifkan pengembangan ekosistem biomassa.

”Pasokan biomassa nan ada sebagian besar mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan batubara, sasaran co-firing Biomassa PLN pada tahun 2024 dan tahun 2025 cukup tinggi dan merupakan tantangan besar, sehingga support izin sangat diperlukan untuk perihal ini,” tutup Kunio.

Top, Indonesia Sulap Limbah Sabut Kelapa Jadi Bahan Bakar

Matahari hampir tepat di atas kepala saat Founder JHL Group Jerry Hermawan Lo beserta rombongan menarik dua utas tali berbarengan. Tirai merah lantas tersingkap. Sejurus berselang tanda nama perusahaan pun terpampang.Terdapat logo delapan helai daun dan satu buah kelapa di sebelah tulisan PT Dewa Agricoco Indonesia berwarna hijau dengan latar putih.

"Tempat ini jadi sejarah," kata Jerry Hermawan Lo menunjuk letak Dewacoco di Desa Goal Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Timur.

"Dengan dibukanya pabrik di sini bakal menjadi berkah sumber kemakmuran bagi masyarakat setempat," lanjut dia.

Penyingkapan gorden merah itu menjadi tanda pembukaan pengoperasian pabrik Dewacoco di total lahan seluas 58 hektare di antara perkebunan kelapa.

Pabrik pengolahan kelapa terpadu itu tak semata mengolah kelapa di wilayah dengan sumber daya tanaman kelapa begitu melimpah, tetapi juga menjadi perusahaan netral karbon penghasil daya terbarukan dari bahan bakar biomassa limbah sabut kelapa.

"Dewacoco jadi perusahaan satu-satunya di bumi penghasil bahan bakar biomassa dari limbah sabut kelapa," sahut Jerry Hermawan Lo.

Setelah menyingkap tanda nama perusahaan, Jerry Hermawan Lo berbareng rombongan langsung meninjau pabrik dimulai dari bagian Open Area.

Di bagian depan tampak timbunan kelapa varietas Dalam telah disortir berumur tiga bulan diangkut para pekerja untuk masuk tahap dehusking alias memisah sabut dengan tempurung.

Tempurung kelapa lantas masuk proses pengolahan lanjutan sementara sabut dipadatkan menjadi briket menjadi bahan bakar biomassa. Briket sabut kelapa itu kemudian dibakar di suhu tinggi tanpa oksigen sehingga material mentah bakal mengalami pemecahan struktur kimia menjadi fase gas alias proses itu disebut pembakaran pirolisis.

"Saat ini Dewacoco sudah menghasilkan 1 megawatt untuk menyuplai listrik di perusahaan. Analogi sederhananya, jika satu rumah punya besaran daya 2.000 watt maka bakal bisa menyuplai untuk 500 rumah dari situ," kata Chief Executive Officer PT Dewa Agricoco Indonesia Arthur Pelupessy.

Biomassa

Dewacoco, lanjut Arthur Pelupessy, berambisi kapabilitas dari biomassa bisa ditingkatkan agar bisa berfaedah pula untuk masyarakat setempat.

Dewacoco, sambungnya, mempunyai angan dapat menjadi faedah secara ekonomis, memacu daya keberlanjutan, dan membangun kesadaran berbareng tentang perbaikan lingkungan baik di masyarakat Jailolo sampai ke seluruh dunia.

Proses membangun kesadaran berbareng tentang lingkungan tersebut nyatanya telah dilakukan Dewacoco dengan tak ada satu pun sampah (waste) tersisa.

Setelah sabutnya menjadi briket untuk bahan bakar biomassa, selanjutnya tempurung masuk ke tahap dewatering untuk diambil air. Berlanjut, tempurung kelapa bakal dipisah dari batoknya untuk dijadikan charcoal.

Sementara itu, kulit kelapa bersambung di tahap paring. Para pekerja kebanyakan wanita secara manual bakal memisah kulit kelapa bewarma cokelat muda dengan daging kelapa. Bagian kulit kelapa itu kemudian diolah menjadi coconut paring oil. Seturut itu pula daging kelapa dipisah dengan bagian ari.

Ari kelapa tersebut selanjutnya bakal diproses menjadi Crude Coconut Oil (CCO). Tepat di hadapan perangkat penyaring berbuku-buku dengan keran merah di bawahnya, Jerry Hermawan Lo mendadak menghentikan langkah. Telunjuknya langsung menadah kucuran CCO pada ujung keran. Serenta, minyak kelapa murni terbuat dari ari kelapa di telunjuknya lekas diseruput ke mulutnya.

"Wah enak. Rasanya gurih. Wangi lagi," katanya dengan wajah semringah.

CCO diproses pada suhu relatif rendah. Ari kelapa diperas menjadi santan lampau dipanaskan dengan suhu relatif rendah untuk lebih lanjut difermentasi, pendinginan, penambahan enzim, dan masuk tahap sentrifugasi.

Sesudah ari kelapa diubah menjadi CCO, bagian dagingnya kemudian masuk ke tahap drying diubah menjadi desicated dan tepung. Deiscated kelapa tersebut didistribusikan menjadi bahan pangan, tetapi dapat pula menjadi bahan untuk pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO).

Setelah ikut menyaksikan proses demi proses pengolahan kelapa terpadu, Anggota DPD RI Namto Hui Roba mengaku ceria lantaran kelapa sebagai produk utama di Halmahera Barat akhirnya bisa punya nilai lebih selain sebelumnya hanya menjadi kopra.

"Dewacoco punya akibat besar bagi masyarakat lantaran bisa membikin kelapa di Halmahera Barat bisa mempunyai nilai lebih. Apalagi pemanfaatan limbah menjadi daya terbarukan sangat baik bagi lingkungan," Namto Hui Roba.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6