Pentingnya Lestarikan Modal Alam Biru Lewat Inisiatif Strategis

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan membujuk seluruh pemangku kepentingan dalam forum Forum Tingkat Tinggi  tentang Modal Alam Biru (Blue Natural Capital) agar berkomitmen melindungi ekosistem Segitiga Terumbu Karang dan memanfaatkan kekuatan modal alam Biru.

Hal ini untuk menjamin masa depan nan sejahtera dan berkepanjangan bagi area nan krusial secara ekologis ini.

Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan nan diwakili Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut (Dirjen PKRL), Victor Gustaaf Manoppo pada aktivitas Forum Tingkat Tinggi  tentang "Modal Alam Biru (Blue Natural Capital)".

Forum nan digelar di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu, 8 Juni 2024 ini merupakan agenda tahunan dalam rangka memperingati Hari Segitiga Terumbu Karang 2024.

"Merupakan suatu kehormatan besar untuk menyambut Anda semua di Forum Tingkat Tinggi tentang "Modal Alam Biru" untuk menjamin masa depan ekosistem Segitiga Terumbu Karang, nan diselenggarakan pada kesempatan baik Hari Segitiga Terumbu Karang 2024, di sini, di kota nan bergerak ini," ujar dia saat membuka Forum Tingkat Tinggi  tentang "Modal Alam Biru (Blue Natural Capital)", seperti dikutip dari keterangan resmi, Minggu (9/6/2024).

Adapun topik nan disampaikan Dirjen PKRL dalam kesempatan ini, ialah tentang  pelestarian dan pengelolaan berkepanjangan ekosistem Segitiga Terumbu Karang, nan mewakili salah satu area laut dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia.

Dia menuturkan, Segitiga Terumbu Karang alias Coral Triangle nan mencakup perairan Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste, merupakan pusat kekayaan keanekaragaman hayati laut dunia.

"Wilayah ini merupakan rumah bagi beragam kehidupan laut, nan memberikan penghidupan bagi jutaan orang, kekayaan terumbu karang, rimba bakau, dan wisata bahari eko-kultural nan berkelanjutan," ujar dia.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Kondisi Ekosistem

Victor mengungkapkan, kondisi ekosistem terumbu karang, lamun, dan bakau nan relatif tetap original di Segitiga Terumbu Karang mewakili “Modal Alam Biru” nan melimpah di area ini.

"Di Indonesia, kami menyadari pentingnya melestarikan Modal Alam Biru melalui inisiatif strategis nan disebut “Ekonomi Biru” melalui lima program prioritas,” ujar dia.

Lima program prioritas itu antara lain Perluasan area perlindungan laut; Penangkapan ikan berbasis kuota; Pengembangan budidaya perikanan nan berkelanjutan;  Pengawasan dan pengendalian di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan Pembersihan Sampah Plastik Laut Melalui Partisipasi Nelayan.

“Tiga keberhasilan Ekonomi Biru adalah: Kesehatan Laut, Kekayaan Laut, dan Kemakmuran Laut," ujar dia.

Untuk itu, Victor mengatakan, berlanjutnya kesehatan jasa ekosistem nan disediakan oleh modal alam biru sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi biru. Lantaran, pendekatan pembangunan berkepanjangan diperkirakan berpotensi meningkatkan nilai ekonomi biru hingga USD 500 miliar lebih besar dibandingkan skenario business-as-usual pada 2030 (Organization for Economic Co-operation and Development/OECD, 2016). Angka ini, kata Dirjen Victor, diperkirakan terus meningkat pada masa mendatang.

"Kami berpandangan bahwa melestarikan keadaan saat ini dan memulihkan ekosistem alami merupakan investasi dalam modal alam biru. Investasi ini dapat dikatakan secara langsung mendukung ekosistem laut nan berkepanjangan dan berketahanan nan menjadi landasan model ekonomi biru berkelanjutan," tutur dia.

Strategi dan Instrumen Investasi Keuangan

Oleh lantaran itu, dirinya menyampaikan, strategi dan instrumen investasi finansial untuk melestarikan dan membangun kembali modal alam iru sangat krusial untuk memberikan insentif dan mendukung pengelolaan kelautan dan pesisir dalam perekonomian biru.

Hal ini, menurut Victor, merupakan momen nan tepat bagi negara-negara CTI-CFF untuk mempertimbangkan langkah memanfaatkan kesempatan investasi dalam aset alam, dengan tujuan memposisikan diri mereka sebagai inovator dunia dalam proyek dan perekonomian kelautan berkelanjutan.

"Kami bekerja tanpa kenal capek untuk menjaga ekosistem Segitiga Terumbu Karang, namun tantangan nan kami hadapi sangat besar dan memerlukan upaya berbareng dari seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi dan kemitraan sangat krusial jika kita mau mencapai tujuan berbareng ialah laut nan sehat dan berketahanan," ujar dia. 

Untuk itu, Dirjen PKRL membujuk seluruh pemangku kepentingan dalam forum tersebut agar berkomitmen melindungi ekosistem Segitiga Terumbu Karang dan memanfaatkan kekuatan modal alam Biru untuk menjamin masa depan nan sejahtera dan berkepanjangan bagi area nan krusial secara ekologis ini.

"Kemitraan multilateral merupakan perangkat krusial dalam upaya ini. Saya berambisi forum ini dapat mencapai tujuan Rencana Aksi Regional 2.0 CTI-CFF dan menciptakan hasil nyata nan berfaedah bagi sumber daya alam dan organisasi kita," pungkasnya.

Perkuat Ekonomi Biru, Menteri Trenggono Gandeng Kemendagri hingga BPKP

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyadari implementasi ekonomi biru perlu keterlibatan beragam sektor. Mulai dari bicara kepemilikan tanah, info kependudukan, hingga pengawasan pelaksanaannya.

Untuk itu, Menteri Trenggono menggandeng sejumlah Kementerian/Lembaga dan beberapa perguruan tinggi. Itu tertuang dalam Nota Kesepahaman (MoU) antara Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bersama ketua Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Lalu, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Serta tiga perguruan tinggi masing-masing Universitas Syiah Kuala, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin.

"Kolaborasi ini bakal memperkuat penyelenggaraan transformasi tata kelola kelautan dan perikanan. Kita bisa perbaiki kampung-kampung nelayan, penguatan info masyarakat pesisir, perbaikan prasarana perikanan budi daya, dan sebagainya," ujar Menteri Trenggono dalam Indonesia Maritime and Fisheries Business Forum 2024, di Jakarta, dikutip Selasa (6/2/2024).

Trenggono menjelaskan, saat ini KKP menjalankan lima program ekonomi biru sebagai upaya transformasi tata kelola kelautan dan perikanan nan berasaskan pada prinsip ekonomi biru.

Kegiatan Konservasi

Program tersebut mencakup aktivitas konservasi, penangkapan ikan berbasis kuota, pengembangan budi daya berkelanjutan, pengawasan pemanfaatan pesisir dan pulau-pulau kecil, hingga penanganan sampah plastik di laut.

Pelaksanaan lima program ekonomi biru ini untuk pemerataan pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir, peningkatan kualitas dan daya saing produk perikanan di pasar global, pembangunan budi daya perikanan berkelanjutan, serta nan utama memastikan keberlanjutan ekosistem kelautan dan perikanan.

"Dengan Kemendagri misalnya, kita punya program konservasi dan pasti ini bersenggolan dengan pemerintah wilayah dan masyarakat pesisir. Kita juga mau kuat di bagian budi daya, dan bidang-bidang lainnya," kata Trenggono.

Sinergitas dengan Kemendagri kaitannya dengan penyelenggaraan tugas dan kegunaan bagian kelautan dan perikanan dan pemerintahan dalam negeri. Sedangkan dengan Kementerian ATR/BPN sinergi dalam pemanfaatan tata ruang untuk aktivitas kelautan dan perikanan.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6