Pengusaha Tak Setuju Kerja 4 Hari Seminggu, Produktivitas Indonesia Bakal Tertinggal di ASEAN

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) belum sepakat dengan waktu 4 hari kerja dalam seminggu. Pasalnya, perihal itu dinilai bakal menurunkan produktivitas kerja.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani menjelaskan banyak aspek nan berpengaruh pada produktivitas kerja. Salah satunya adalah lama waktu kerja dalam satu pekan, saat ini bertindak 5 hari kerja dalam seminggu.

"Sehingga andaikan kita bakal mengurangi hari kerja nan pastinya akhirnya bakal mengurangi jam kerja, maka kita bakal lebih susah lagi untuk menyaingi produktivitas negara lainnya di ASEAN," ujar Shinta kepada Liputan6.com, Senin (12/2/2024).

Dia menilai, pengaturan waktu kerja di suatu negara sangat berpengaruh pada tingkat produktivitas negara tersebut. Shinta menyebut aspek ketenagakerjaan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2023 Tentang Cipta Kerja.

Aturan tersebut menjelaskan, Indonesia tetap menerapkan waktu kerja 40 jam per minggu dengan kemungkinan lembur 4 jam per hari dengan 5 alias 6 hari kerja per minggu.

"Berdsarkan statistik ILO (Indonesia Labour Organization) tahun 2021, produktivitas Indonesia berada pada posisi ke 5 di ASEAN, di bawah Singapore, Brunei, Malaysia, dan Thailand," tegasnya.

Selain patokan waktu tadi, Shinta menyinggung soal tingkat pendidikan tenaga kerja di Indonesia nan didominasi lulusan SMP ke bawah sebesar 58 persen. Ini berkaca pada info Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2024.

"Sedikit banyak tingkat pndidikan nan rendah bakal berkontribusi pada rendahnya produktivitas," kata dia.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Benarkah Seminggu Kerja 4 Hari Cukup Efektif? Ini Kata Pengamat

Sebelumnya, beberapa mahir menilai pengurangan masa kerja menjadi 32 jam dalam seminggu adalah langkah maju dalam upaya memperjuangkan keseimbangan kehidupan bagi para pekerja ke arah nan lebih baik.

Menurut Karen Foster guru besar sosiologi di Universitas Dalhousie di Halifax, susah membayangkan perihal tersebut bisa diadopsi hingga seluruh bumi lantaran kita telah terbiasa dengan patokan waktu kerja hingga 40 jam.

Pada pertengahan September 2023, serikat pekerja United Auto Workers (UAW) dan tiga serikat pekerja di Amerika Serikat -- Ford Motor Company, General Motors, dan Stellantis -- melakukan pemogokan.

Salah satu tuntutan mereka adalah pengurangan durasi kerja. Tetap dibayar penghasilan full, meskipun hanya bekerja selama 32 jam, dikutip dari laman cbc.ca, Senin (12/2/2024).

Foster mengatakan, beberapa orang mungkin susah membayangkan dibayar dengan penghasilan nan sama tapi pekerjaan nan lebih sedikit. Namun, menurutnya perihal ini berangkaian dengan masalah produktivitas.

“Gerakan empat hari kerja dalam seminggu sangat berangkaian dengan penelitian nan menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, bisa mencapai tingkat produktivitas nan sama dalam lama kerja nan lebih singkat.”

Mengurangi Kelelahan

Mengurangi kelelahan, meningkatkan kesehatan hingga beberapa faedah lain bakal dirasakan jika manusia bekerja empat hari dalam seminggu, kata Foster.

“Pekerja tiba di tempat kerja dengan kondisi pulih. Mereka tidak perlu lagi rehat di tempat kerja,” katanya.

"Dan saya pikir bakal banyak orang nan dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan ketika berada di bawah kendali dibandingkan jika Anda mempunyai tenggat waktu nan sangat panjang."

Namun, ada Matt Juniper, salah satu pendiri Praxis PR nan berbasis di Toronto, awalnya merasa skeptis terhadap patokan kerja empat hari dalam seminggu.

Setelah memandang data, Juniper memutuskan untuk mencoba perihal tersebut selama enam bulan.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6