Pengelola Dana Kekayaan Norwegia Bakal Tolak Usulan Gaji CEO Tesla Elon Musk, Kenapa?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Pengelola biaya kekayaan negara Norwegia senilai USD 1,7 triliun alias setara Rp 27.670 triliun (asumsi kurs Rp 16.276 per dolar AS) mengatakan bakal memberikan bunyi menentang ratifikasi paket pembayaran senilai USD 56 miliar alias sekitar Rp 909,04 triliun untuk CEO Tesla Elon Musk. 

Hal ini bakal diputuskan melalui pemungutan bunyi pemegang saham minggu depan. Investor tersebut merupakan pemegang saham terbesar kedelapan Tesla, menurut info LSEG. 

Gaji Musk, nan merupakan penghasilan terbesar bagi seorang CEO di perusahaan Amerika Serikat, telah disetujui pada 2018, tetapi dibatalkan oleh pengadil awal tahun ini, nan mengatakan jumlah tersebut tidak setara bagi pemegang saham dan menyebutnya sebagai jumlah nan tidak dapat diduga.

Pengelola biaya tersebut mengatakan pihaknya menghargai nilai signifikan nan dihasilkan di bawah kepemimpinan Elon Musk sejak tanggal pemberian biaya pada 2018.

“Namun, kami tetap cemas mengenai besaran total penghargaan, struktur pemicu kinerja, dilusi, dan kurangnya mitigasi akibat orang-orang penting," kata Norges Bank Investment Management (NBIM), operator biaya tersebut, dikutip dari Channel News Asia, Minggu (9/6/2024)

Pada 2018, biaya tersebut memberikan bunyi menentang paket tersebut dan terus mengupayakan perbincangan konstruktif dengan Tesla mengenai topik ini dan topik lainnya.

Dana tersebut, nan menurut info biaya tersebut mempunyai 0,98 persen saham senilai USD 7,7 miliar, mengkritik gaji CEO nan berlebihan. 

Menanggapi postingan di platform media sosial X, Musk mengatakan keputusan biaya tersebut "tidak keren", dan menambahkan jika biaya tersebut betul-betul melakukan survei terhadap konstituen, mereka bakal menemukan support luar biasa nan mendukung.

Tahun lalu, mereka menolak lebih dari separuh paket gaji CEO AS di atas USD 20 juta, dan memperingatkan paket tersebut tidak sejalan dengan pembuatan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Pemegang Saham Jumbo Tesla Restui Elon Musk Terima Paket Gaji Rp 913 Triliun

Sebelumnya, penanammodal miliarder Ron Baron, penanammodal lama Tesla dan pemegang saham lama Tesla, menulis surat terbuka yang berisi restu dan dukungan untuk memberikan paket penghasilan kepada CEO Elon Musk senilai USD 56 miliar alias setara Rp 913 triliun.

Ketua dan CEO Baron Capital ini mengatakan bahwa perjanjian kompensasi Musk pada tahun 2018 mencakup metrik keahlian “agresif” nan hanya sedikit orang nan percaya bahwa perihal tersebut dapat dicapai. "Musk tidak bakal mendapatkan apa-apa jika target-target ambisius ini tidak tercapai," kata dia melansir CNBC, Kamis (5/6/2024).

“Elon adalah ‘orang kunci’ utama dari akibat orang kunci,” kata Baron dalam surat itu. "Tanpa dorongan tanpa henti dan standar tanpa kompromi, tidak bakal ada Tesla. Terutama mengingat gimana dia tidur di lantai pabrik Tesla di Fremont ketika perusahaan mengalami apa nan dia sebut sebagai 'neraka produksi!"

Paket gaji  Elon Musk yang diusulkan Dewan Direksi Tesla telah berulang kali mendapat kecaman, termasuk kritik bahwa majelis dewan terlalu dekat dengan Musk sehingga susah independen.

Paket ini tidak memberikan penghasilan alias bingkisan tunai dan menetapkan hadiah berasas nilai pasar Tesla nan meningkat hingga USD 650 miliar selama 10 tahun sejak 2018. Jika diloloskan, ini bakal menjadi paket penghasilan terbesar untuk seorang CEO di perusahaan Amerika.

Rencananya, rapat pemegang saham Tesla dijadwalkan pada tanggal 13 Juni. “Saya memberikan bunyi untuk paket penghasilan tersebut,” kata Baron.

Sempat Dibatalkan

Pada Januari, Hakim Kathaleen McCormick dari Pengadilan Delaware membatalkan paket penghasilan tersebut. Musk kemudian berupaya untuk memindahkan negara bagian pendirian Tesla ke Texas dari Delaware.

Baron sebelumnya mengungkapkan bahwa perusahaannya telah melakukan investasi sekitar 20 kali lipat di Tesla sejak pertama kali membeli saham pada tahun 2014.

Tesla adalah kepemilikan terbesar di biaya tertua dan terbesar Baron, Baron Partners Fund (BPTIX), nan mencakup nyaris 30% dari portofolio.

"Di Baron Capital, jawaban kami jelas, lantang, dan tegas jika Tesla lebih baik berbareng Elon. Tesla adalah Elon,” katanya dalam surat tersebut.

Elon Musk Umbar Janji Investasi ke Indonesia di Masa Depan

Sebelumnya, pendiri SpaceX Elon Musk buka kemungkinan untuk menyalurkan investasi ke Indonesia. Namun demikian, Elon Musk tidak menjelaskan detil soal kesempatan itu, dengan hanya mengumbar janji pihaknya bakal menanamkan modal di Tanah Air pada masa depan.

Pernyataan itu disampaikannya pasca melakukan peresmian peluncuran jaringan internet satelit Starlink miliknya di Puskesmas Pembantu Sumerta Kelod di Kota Denpasar, Bali, Minggu (19/5/2024).

"Saya pikir dalam jangka panjang kemungkinan besar kami bakal berinvestasi di Indonesia. Saya pikir sangat mungkin bahwa perusahaan saya akan investasi di Indonesia pada masa depan," kata Elon Musk.

Dengan busana kemeja hijau lengan panjang nan dikenakannya, Elon menegaskan kedatangannya ke Bali saat ini lebih berfokus pada peluncuran jaringan internet Starlink.

Jadi PembicaraSelain Starlink, triliuner besar bumi ini juga diundang dalam rangkaian aktivitas World Water Forum ke-10 pada Senin, 20 Mei 2024 besok. Menurutnya, ini merupakan kesempatan nan bagus untuk bisa datang ke Bali dan Indonesia.

"Saya mendengar banyak perihal dahsyat soal Bali dan Indonesia, dimana semuanya tepat. Ini merupakan tempat nan luar biasa, (Bali) juga pulau nan sangat indah," ungkapnya.

"Oleh karenanya ini saat nan tepat untuk melakukan pengumuman resmi soal Starlink. Saya juga yakin, bakal banyak topik krusial mengenai air (di World Water Forum ke-10)," imbuh Elon Musk.

Selain itu, dia mengaku terkesan kali dengan pohon mangrove nan banyak bertebaran di pesisir Pulau Dewata. "Itu sangat keren. Tapi jujur, saya tidak banyak tahu tentang air," pungkas pendiri SpaceX itu.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6