Menkominfo Akui Kecepatan Internet Indonesia Masih Lemot, Kalah Jauh dari Brunei

Sedang Trending 6 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengakui bahwa kecepatan jasa internet di Indonesia tetap lambat. Dia mencatat, rata-rata kecepatan internet hanya mencapai 23,3 Mbps.

"Ini nan selalu saya keluhkan ke banyak temen ekosistem telekomunikasi. Kecepatan internet kita tetap rendah, tetap 23,3 Mbps. Walaupun di Jakarta lebih tinggi, Ini PR kita soal kecepatan," kata Menteri Budi dalam acara Groundbreaking Pusat Data BBDC Tier IV di Kawasan Vhdara Cina, Jakarta Timur, Selasa (21/11).

Padahal, kecepatan internet menjadi kunci krusial untuk mendukung tranformasi ekonomi digital Indonesia. Oleh lantaran itu, percepatan jasa internet di beragam wilayah Indonesia kudu segera ditingkatkan melalui ekspansi jaringan 5G.

"Karena itu bakal mendukung ekosistem digital nan lain, kayak e-commerce. Begitu kecepatan internet meningkat, semua bakal melangkah baik dan merupakan prasyarat sebagai negara maju," ujarnya.

Insentif

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tengah menyiapkan insentif untuk ekspansi penerapan teknologi jaringan telekomunikasi 5G di Indonesia. Pemberian insentif ini untuk mendorong kecepatan jasa internet di beragam wilayah Indonesia.

"Jadi, insentif 5G ini input dari ekosistem seluler nan tergabung dari asosiasi seluler Indonesia. Mereka bicara, meminta insentif agar industrinya sehat dan masyarakat terlayani.

Udah tiga minggu lampau (pembicaraan)," ungkap Menteri Budi.

Adapun, corak program insentif jaringan 5G kepada para pelaku upaya seluler berupa potongan nilai insentif biaya kewenangan penggunaan (BHP) gelombang maupun support izin cost nan dikeluarkan pelaku upaya seluler. Meski demikian, Budi belum mau mengungkap besaran potongan BHP gelombang 5G.

"Macam-macam (insentif), bisa kemurahan, artinya frekuensinya dipermurah," bebernya.

Sebelumnya, laporan Ookla pada bulan Februari 2023 menunjukkan kecepatan internet di sejumlah negara. Dalam laporan Speedtest Global Index itu, ranking kecepatan internet Indonesia meningkat, tapi tetap menjadi nan paling lemot di Asia Tenggara.

Berikut daftar kecepatan mobile internet dan fixed broadband internet di Asia Tenggara per Februari 2023 berasas laporan Ookla:

Internet Mobile

  1. Brunei (16) - 85,13 Mbps
  2. Singapura (22) - 75,71 Mbps
  3. Malaysia (46) - 44,22 Mbps
  4. Vietnam (52) - 42,67 Mbps
  5. Thailand (54) - 40,10 Mbps
  6. Laos (68) - 30,61 Mbps
  7. Myanmar (75) - 26,70 Mbps
  8. Filipina (80) - 24,58 Mbps
  9. Kamboja (96) - 21,09 Mbps
  10. Indonesia (103) - 20,17 Mbps 

Banyak Pengusaha Indonesia Terlahir dari IG dan TikTok

Sebelumnya, transformasi digital telah banyak mengubah pola upaya di Indonesia. Kebanyakan pengusaha tak lagi mengincar lapak tradisional untuk menjual produk peralatan alias jasanya, tapi langsung menyasar pasar online. 

Regional Head and Managing Director for Stripe in Southeast Asia Sarita Singh menilai, pola itu berkebalikan dengan apa nan terjadi di bagian bumi bagian barat, nan memulai geliat bisnisnya dari pasar offline.

"Sebagian besar negara maju ada kebarat-baratan biasanya memulai upaya offline. Misalnya, saya sebagai retailer pasti memulainya secara offline, baru nantinya membangun bisnis digital," ungkapnya di Stripe Tour di Singapura, Rabu (27/9/2023).

"Yang berbeda dari Asia Tenggara adalah banyak upaya nan juga baru dibangun dalam 10-15 tahun terakhir. Mereka memulainya sebagai digital natives, baru kemudian menjamah offline," kata Sarita. 

Menurut dia, kebalikan tren upaya tersebut jadi suatu pola nan menarik. Pasalnya, saat ini banyak pengusaha-pengusaha digital nan memulai bisnisnya di media sosial, seperti IG dan TikTok Shop juga tak mau ketinggalan pasar offline. 

"Banyak upaya nan dimulai di Instagram, alias di semua jenis platform lainnya. Namun kemudian, seiring pertumbuhannya, mereka beranjak dari online ke offline," kata Sarita. 

Tak mau ketinggalan, Stripe selaku platform pemrosesan pembayaran turut memanfaatkan momentum tersebut. "Ini sangat krusial untuk pasar-pasar tersebut, dan kami semakin banyak menghadirkan solusi offline, lantaran kami mempunyai pembayaran online, pembayaran digital, dll," ungkapnya. 

"Jadi kedua tren tersebut sebenarnya lebih banyak mendorong otomasi upaya di tingkat middle dan back office. Itu kemudian nan menjadi tanggung jawab kami," ujar Sarita. 

Menkop Teten Buka-bukaan Teknologi Digital Belum Bisa Bantu UMKM Tambah Untung

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkap akibat dari proses transformasi digital di lingkup usaha. Nyatanya, penerapan teknologi belum maksimal mendorong untung bagi UMKM.

Teten mencatat, saat ini Indonesia belum mempunyai badan nan mengatur strategi nasional transformasi digital. Walhasil, dia dan para menteri lainnya mengaku tak mempunyai referensi nan jelas, padahal transformasi digital melibatkan banyak aspek.

Di Indonesia transformasi digital hanya berkembang di sektor perdagangan (e-commerce) di sektor hilir bukan di sektor produksi," kata dia kepada media, Sabtu (16/9/2023)."Makanya produksi nasional kalah dengan produk dari luar nan lebih murah, lantaran produksinya lebih efisien dan berkualitas," imbuhnya.

Teten mengatakan, pada sisi platform jual beli digital pun, pemerintah seakan terlambat menghadirkan aturan. Utamanya nan mengatur platform e-commerce dan social commerce.

"Akibatnya kita didikte platform digital global. UMKM produsen kita tidak punya keahlian teknologi digital. Aplikasi-aplikasi digital untuk membantu supply chain UMKM tetap sedikit," ungkap Teten Masduki.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6