Lagi Sakit Parah, 7 Asuransi Masuk UGD

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Terdapat tujuh perusahaan asuransi nan berada dalam pengawasan unik Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Masalah dari perusahaan asuransi ini sebagian besar lantaran mempunyai modal di bawah nan sudah diatur.

"Permasalahan pada umumnya adalah kurangnya permodalan perusahaan untuk menutup defisit perusahaan agar tingkat kesehatan mencapai minimum nan dipersyaratkan," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono dikutip dari Antara, Rabu (3/4/2024).

Pengawasan unik oleh OJK ini dilakukan dengan tujuan agar perusahaan asuransi dapat memperbaiki kondisi keuangannya untuk kepentingan pemegang polis.

Sesuai ketentuan, secara umum penyebab perusahaan perasuransian tersebut masuk dalam pengawasan unik lantaran tidak mempunyai rasio solvabilitas kurang dari 80 persen, rasio likuiditas kurang dari 80 persen dan rasio kecukupan investasi kurang dari 80 persen.

Pemegang saham juga tidak mempunyai keahlian untuk melakukan setoran modal pada perusahaan dan/atau alias mencari penanammodal strategis untuk melakukan setoran modal pada perusahaan.

Secara umum permodalan di industri asuransi komersil tetap solid, dengan industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan Risk Based Capital (RBC) masing-masing sebesar 452,24 persen dan 339,94 persen, jauh di atas periode pemisah sebesar 120 persen.

Spin Off

Lebih lanjut Ogi menuturkan pada 2024 terdapat dua perusahaan nan bakal memproses spin off unit upaya syariah (UUS) dengan langkah mendirikan perusahaan asuransi syariah dan tiga perusahaan akan/sedang memproses spin off dengan langkah pengalihan portofolio.

Spin off asuransi syariah bermaksud untuk meningkatkan volume upaya perusahaan, memperluas pasar, meningkatkan market share dan brand image serta aktualisasi prinsip syariah dalam operasional dan pelayanan nasabah.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Aset Industri Asuransi-Dana Pensiun Tembus Rp 1.130 Triliun, Tumbuh 2,08% per Februari 2024

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melaporkan per Febaruari 2024 aset industri Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) mencapai Rp 1.130,05 triliun alias naik 2,08% secara tahunan (yoy).

"Aset industri asuransi pada Februari 2024 mencapai Rp 1.130,05 triliun alias naik 2,08 persen year on year," kata Ogi dalam Konferensi Pers RDK Bulanan Maret 2024, Selasa (2/4/2024).

Untuk rinciannya, OJK mencatat aset industri asuransi komersial pada Februari 2024 sebesar Rp 909,77 triliun alias naik 2,47% yoy.

Akulumasi pendapatan premi asuransi komersial mencapai Rp68,84 triliun alias naik 10,88% yoy, nan terdiri dari premi asuransi jiwa nan tumbuh sebesar 1,45% yoy dengan nilai sebesar Rp 30,77 triliun, dan premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh sebesar Rp 30,07 triliun alias 22% yoy.

Ogi mengatakan, keahlian tersebut didorong oleh permodalan di industri asuransi nan tetap solid. Di mana industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan Risk Based Capital (RBC) di atas threshold, nan masing-masing sebesar 452% dan 339%.

"Jauh diatas treshold sebesar 120%," imbuhnya.

Asuransi Non Komersial

Sementara, untuk asuransi non komersial nan terdiri dari aset BPJS Kesehatan baik badan dan program agunan kesehatan nasional, dan BPJS Ketenagakerjaan baik aset badan, agunan kecelakaan kerja, agunan kematian, dan agunan kehilangan pekerjaan, serta program asuransi ASN dan Polri per Februari 2024, total asetnya mencapai Rp220,27 triliun alias tumbuh 0,53% yoy.

Selanjutnya, disisi industri biaya pensiun, total aset biaya pensiun per Februari 2024 tumbuh sebesar 10,88% yoy dengan nilai Rp 1.427,01 triliun.

Lalu untuk biaya pensiun sukarela total aset mencatatkan pertumbuhan7,03% yoy dengan nilai aset sebesar Rp372,34 triliun.

Kemudian, OJK mencatat untuk program pensiun wajib total aset mencapai Rp 1.064 triliun alias tumbuh 12% yoy. Selanjutnya, terhadap perusahaan penjaminan, nilai aset tumbuh 15,50% yoy dengan nilai mencapai Rp46,3 triliun pada Februari 2024.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6