Ketimbang Pangkas Hari Kerja, Pengusaha Punya Jurus Ampuh Genjot Produktivitas Pekerja

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Penerapan 4 hari kerja dalam seminggu disebut-sebut bisa sukses mendongkrak produktivitas di luar negeri. Namun, langkah tersebut dinilai belum bisa sukses dijalankan di Tanah Air.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, pemangkasan waktu kerja belum tentu bisa meningkatkan produktivitas. Dia memilih menguatkan kompetensi pekerja di Indonesia.

"Kunci untuk mengejar produktivitas adalah kompetensi tenaga kerja nan kudu sesuai dengan kebutuhan bumi industri," kata Shinta kepada Liputan6.com, Senin (12/2/2024).

Dia menegaskan, Apindo turut mengambil langkah untuk meningkatkan keahlian pekerja. Ada sejumlah program nan diusung asosiasi campuran pengusaha tersebut.

"Apindo tidak tinggal tak bersuara menghadapi kesenjangan antara kebutuhan kompetensi dengan kesiapan tenaga kerja, sehingga kami menyelenggarakan antara lain program pengusaha mengajar dan juga program pemagangan," tuturnya.

Menurut Shinta, cara-cara tadi nan bisa meningkatkan produktivitas kerja dari para pegawai dalam satu perusahaan. Alhasil, diharapkan bisa mengerek keahlian industri nasional.

"Diharapkan kedua program tersebut dapat membantu mengejar penenuhan kebutuhan tenaga kerja nan kompeten, sehingga bumi industri kita dapat lebih produktif," pungkasnya.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Tak Sepakat Sistem Kerja 4 Hari

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) belum sepakat dengan waktu kerja 4 hari dalam satu minggu. Pasalnya, perihal itu dinilai bakal menurunkan produktivitas kerja.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani menjelaskan banyak aspek nan berpengaruh pada produktivitas kerja. Salah satunya adalah lama waktu kerja dalam satu pekan, saat ini bertindak 5 hari kerja dalam seminggu.

"Sehingga andaikan kita bakal mengurangi hari kerja nan pastinya akhirnya bakal mengurangi jam kerja, maka kita bakal lebih susah lagi untuk menyaingi produktivitas negara lainnya di Asean," ujar Shinta kepada Liputan6.com, Senin (12/2/2024).

Dia menilai, pengaturan waktu kerja di suatu negara sangat berpengaruh pada tingkat produktivitas negara tersebut. Shinta menyebut aspek ketenagakerjaan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2023 Tentang Cipta Kerja.

Waktu Kerja di Indonesia

Aturan tersebut menjelaskan, Indonesia tetap menerapkan waktu kerja 40 jam per minggu dengan kemungkinan lembur 4 jam per hari dengan 5 alias 6 hari kerja per minggu.

"Berdsarkan statistik ILO (Indonesia Labour Organization) tahun 2021, produktivitas Indonesia berada pada posisi ke 5 di ASEAN, di bawah Singapore, Brunei, Malaysia, dan Thailand," tegasnya.

Selain patokan waktu tadi, Shinta menyinggung soal tingkat pendidikan tenaga kerja di Indonesia nan didominasi lulusan SMP ke bawah sebesar 58 persen. Ini berkaca pada info Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2024.

"Sedikit banyak tingkat pndidikan nan rendah bakal berkontribusi pada rendahnya produktivitas," kata dia.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6