Indonesia Jadi Anggota FATF, Pengembalian Aset Hasil Pencucian Uang Lebih Mudah

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Indonesia telah menjalin kerja sama internasional dengan PPATK negara lain untuk mengoptimalkan penelusuran aset ke luar negeri alias mengungkap kasus lintas negara.

Kejahatan lintas negara adalah ancaman serius terhadap keamanan dan kemakmuran dunia mengingat sifatnya nan melibatkan beragam negara. Beberapa contoh kejahatan lintas negara ini adalah narkoba, perdagangan orang, penyelundupan orang, pencucian uang, perdagangan gelap, dan lain-lain.

Direktur Strategi dan Kerja Sama Internasional Diana Soraya Noor menjelaskan, saat ini Indonesia telah berasosiasi dengan Financial Action Task Force (FATF). Indonesia menjadi personil ke-40 dan mulai berasosiasi sejak 27 Oktober 2023.

Status keanggotaan FATF ini diperoleh setelah melalui serangkaian pengujian, baik dari penilaian on-site visit mutual evaluation review (MER) oleh tim FATF pada bulan Juli-Agustus 2020 maupun review nan telah dilakukan pada Plenary Meeting FATF Juni 2023.

FATF adalah organisasi internasional nan berfokus pada upaya dunia dalam pemberantasan pencucian uang, pendanaan terorisme, dan pendanaan proliferasi senjata pemusnah masal.

"Indonesia sudah berasosiasi sejak 27 Oktober 2024, personil ke-40. FATF ini adalah organisasi antar pemerintah nan didirikan pada tahun 1989 atas prakarsa G7," ungkap Diana.

Diana mengatakan bahwa dengan bergabungnya Indonesia ke FATF ini bisa memudahkan Indonesia untuk mengungkap beragam modus nan condong susah diungkap sebelumnya, lantaran dengan berbareng FATF, pencegahan kasus pencucian duit lintas negara bakal lebih efektif, mulai dari teknologi nan lebih berkembang.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6