Harga Minyak Dunia Amblas, Ini Dia Pemicunya

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak ditutup lebih rendah pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta), setelah data ekonomi Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran bahwa suku kembang mungkin tetap tinggi. Namun potensi akibat terhadap pasokan minyak akibat ketegangan di Timur Tengah dan kebakaran rimba di Kanada memberikan tekanan pada nilai minyak.

Dikutip dari CNBC, Rabu (15/5/2024), harga minyak mentah berjangka Brent turun 98 sen alias 1,18% menjadi USD 82,38 per barel. Sedangkan nilai minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 1,10 alias 1,39% ke level USD 78,02 per barel.

Harga produsen AS meningkat lebih dari perkiraan pada bulan April, memicu kekhawatiran Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) bakal mempertahankan kenaikan biaya pinjaman untuk melawan inflasi.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan dia memperkirakan inflasi AS bakal terus menurun hingga tahun 2024 tetapi memperingatkan bahwa dia kurang percaya diri saat ini, lantaran harga-harga naik lebih sigap dari perkiraan pada kuartal pertama.

“Kisah inflasi nan tidak terkendali sehingga sedikit menarik kembali permintaan dan perihal nan memberi akibat jelek adalah komentar Powell," kata Tim Snyder, Ekonom Matador Economics.

Data nilai konsumen AS diperkirakan dirilis pada hari Rabu dan bakal mempengaruhi waktu penurunan suku kembang nan dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.

Inflasi

Angka inflasi nan lebih kuat dari perkiraan dapat menambah kekhawatiran bahwa perekonomian nan terlalu panas bakal memaksa The Fed meningkatkan suku kembang lagi, nan dapat menghalang pertumbuhan.

Sementara itu pada hari Selasa, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap berpegang pada perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia nan relatif kuat pada tahun 2024 dan mengatakan ada kemungkinan perekonomian bumi bakal lebih baik dari perkiraan tahun ini.

Laporan bulanan OPEC menyebut permintaan minyak bumi bakal meningkat sebesar 2,25 juta barel per hari (bph) pada tahun 2024 dan sebesar 1,85 juta barel per hari pada tahun 2025.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6