Harga Komoditas Turun, Neraca Transaksi Berjalan RI Diramal Defisit

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Chief Economist Citi Indonesia, Helmi Arman memperkirakan neraca transaksi melangkah kembali defisit di tahun ini. Hal itu mengingat kondisi pelemahan harga-harga komoditas ekspor dalam beberapa waktu terakhir.

“Saldo neraca transaksi berjalan Indonesia tahun ini kami perkirakan bakal bergerak lebih dalam ke arah defisit andaikan dibandingkan tahun lalu," kata Helmi dalam konvensi pers Citi Indonesia di Jakarta, Selasa (2/4/2024).

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi melangkah tahun 2023 mengalami defisit terkendali 0,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) alias sebesar USD 1,6 miliar.

Di tahun sebelumnya, transaksi melangkah Indonesia tercatat surplus sebesar USD 13,2 miliar alias 1 persen dari PDB.

Adapun neraca pembayaran Indonesia (NPI) keseluruhan nan surplus sebesar USD 6,3 miliar di 2023, meningkat dari tahun sebelumnya nan mencatat surplus USD 4 miliar.

Pengaruh Suku Bunga

Helmi menyebutkan, neraca pembayaran Indonesia juga condong terpengaruh negatif oleh diferensial suku kembang Rupiah dan dolar AS nan saat ini relatif ketat, imbas kenaikan suku kembang The Fed.

Dijelaskan, diferensial suku kembang nan ketat ini mengurangi insentif bagi eksportir untuk menukarkan devisa hasil ekspor ke Rupiah.

“Diferensial suku bunga nan ketat ini juga mendorong korporasi nan mempunyai pendanaan dalam dolar untuk melakukan refinancing menjadi pendanaan dalam mata duit Rupiah. Di mana kedua perihal ini mempengaruhi keseimbangan suplai dan permintaan (supply-demand) di pasar valas domestik,” paparnya.

"Untuk itu, perkiraan kami ruang untuk penurunan kembang referensi Bank Indonesia baru bakal terbuka andaikan Federal Reserve di Amerika Serikat juga sudah memulai penurunan suku bunganya," kata dia.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6