Harga Gas Industri Perlu Dievaluasi, Kenapa?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Ikatan Perusahaan Gas Bumi Indonesia (IPGI) mendorong kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dievaluasi efektifitasnya, wacananya Insentif tersebut bakal dilanjutkan setelah berhujung di tahun 2024 ini.

Ketua umum IPGI, Eddy Asmanto mengutarakan bahwa pertimbangan kebijakan HGBT sangat diperlukan lantaran berakibat luas pada seluruh rantai suplai gas bumi, baik dari sektor hulu, midstream, maupun hilir.

"Perlu dilakukan pertimbangan efektifitas HGBT, agar faedah nan diterima pelaku upaya sektor hulu, midstream dan hilir menjadi adil. Lagi pula HGBT ini kan awalnya untuk mendorong daya saing pada 7 sektor industri," ucap Eddy.

Eddy menambahkan bahwa HGBT ini berakibat pada penurunan penerimaan negara di sektor hulu nan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan nan diperoleh negara disektor hilir, seperti kenaikan pendapatan pajak, kenaikan penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan daya saing industri melalui penurunan harga.

"Sebagai informasi, pada tahun 2021 dan 2022 negara mengalami penurunan pendapatan dari ketentuan HGBT sebesar Rp 29,39 triliun, namun belum ada info kuantitatif nan menggambarkan kenaikan di sektor hilir. Jika kebijakan HGBT ini terus dilanjutkan, IPGI mengarapkan adanya pertimbangan nan menyuruh," kata Eddy.

Eddy mengungkapkan, pertimbangan menyeluruh bermasuk agar kebijakan ini berkeadilan terhadap semua stakeholder nan mengenai baik di sektor hulu, midstream, hilir maupun industri sebagai pengguna akhir gas bumi.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Pasokan Gas Terganggu, Industri Keramik Curhat Begini

Sebelumnya, pasokan gas untuk sektor industri mengalami masalah pasokan nan mengganggu keahlian industri nan saat ini sedang tumbuh baik. Badan Pusat Statistik (BPS) untuk kuartal 1 2024 mengeluarkan info kapabilitas terpakai industri mencapai 73,61% naik dari kapabilitas terpakai kuartal 1 2024 di 72,33%.

Kemajuan sektor industri tersebut juga terganggu dengan tidak konsistennya penyelenggaraan program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) industri. Para pelaku di tujuh sektor ialah industri pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, serta sarung tangan karet seringkali terpaksa membeli gas di atas standar HGBT ialah di USD 6 per MMBtu. Masalah pasokan dan nilai gas ini menakut-nakuti competitive advantage industri Indonesia dalam kejuaraan global.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto menyatakan bahwa masalah pada suplai gas bumi memberikan ancaman bagi kemajuan industri manufaktur secara umum dan khususnya industri jenis keramik.

Menurut Edy mulai bulan Februari 2024 ini salah satu produsen gas memberlakukan kuota pemakaian gas namalain Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) dengan kisaran 60%-70% dengan argumen terjadi gangguan suplai di hulu.

“Anggota asosiasi bagaimanapun kudu mempertahankan utilisasi produksi serta komitmen penjualan industri keramik kepada pengguna baik domestik maupun ekspor dengan terpaksa kudu bayar mahal nilai gas. Bahkan dalam catatan kami ada nan mencapai USD15 per MMBtu, padahal HGBT untuk sektor industri keramik di USD 6 per MMBtu. Akibatnya daya saing industri sangat terganggu dan kita kalah bersaing di pasar regional maupun internasional,” terang Edy.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Diponegoro (Undip) Bangkit Wiryawan mengatakan kondisi terhambatnya pasokan gas sangat mengganggu sektor industri saat ini sedang tumbuh baik terutama beberapa tahun belakangan.

“Hal ini tentunya secara langsung berakibat pada menurunnya daya saing produk-produk industri Indonesia, karena cost of production membengkak untuk dapat memenuhi kekurangan kebutuhan gas. Tanpa didukung oleh prasarana kelembagaan dan tata kelola nan baik, termasuk dalam perihal kepastian pasukan gas, maka mustahil industri Indonesia bakal bisa berkompetisi di tingkat regional apalagi global,” kata Bangkit.

Kekurangan Pasokan

Menurut Bangkit masalah kekurangan pasokan dan ketidakpastian nilai gas pasti berkorelasi langsung dengan tidak lancarnya proses produksi. Padahal, untuk bisa menumbuhkan industri nan kompetitif dan berfokus pada inovasi, kebutuhan dasar seperti bahan baku produksi kudu dapat terpenuhi secara baik.

“Selain menghalang proses produksi, nan berfaedah juga kondisi ketidakpastian produksi, jika bersambung dalam jangka menengah situasi ini juga berpotensi menurunkan kepercayaan pasar terhadap keahlian Indonesia untuk mendukung pertumbuhan industri. Dalam jangka panjang, pada satu sisi masalah pasokan gas ini bakal menggerogoti upaya revitalisasi industri untuk berkompetisi di pasar dunia nan giat dilakukan oleh pelaku ekonomi, dan ujung-ujungnya justru bisa menyebabkan deindustrialisasi,” terang Bangkit.

Menurut Bangkit, halangan dalam proses produksi bakal memaksa para pelaku industri untuk dapat memenuhi kebutuhannya melalui jalan lain, dan ini tentunya bakal berakibat pada biaya produksi nan semakin bertambah. Kalaupun mereka memutuskan untuk menunggu datangnya pasokan gas, maka waktu tunggu nan lama ini juga bakal menyebabkan naiknya biaya produksi lantaran tidak mungkin mereka menghentikan proses produksi begitu saja.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6