Harga Beras Mahal, Kepala Bapanas: Nomor Satu Ada Dulu

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Harga beras medium di pasaran rata-rata tetap melampaui nilai referensi penjualan (HAP) nan ditetapkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 7 Tahun 2023 sebesar Rp 10.900 per kilogram-Rp 11.800 per kilogram.

Mengutip Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), nilai rata-rata beras premium sebesar Rp 15.000 per kilogram. Namun, di beberapa wilayah seperti Sumatera Barat bisa tembus hingga Rp 20.000 per kilogram.

Sementara itu nilai beras medium bertengger pada rata-rata nilai Rp 13.250 per kilogram. Harga tertinggi ada di beberapa provinsi dengan patokan Rp 14.000 per kilogram.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menyatakan, ketersedian pangan pokok dan strategis secara nasional adalah paling utama, terutama selama Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

"Semua hari ini bekerja sama menyiapkan pangan nasional. Nomor satu ada dulu, nilai nomor dua. Daripada harganya murah, tapi stoknya enggak ada. Sekarang nomor satu availability, setelah itu bicara price," ujar Arief usai peluncuran mobil laboratorium keliling pengawasan keamanan pangan di Bogor, dikutip Selasa (21/11/2023).

Arief menerangkan, penguatan stok pangan nasional sebagai salah satu upaya untuk menjaga stabilitas pangan selama pesta demokrasi. Sejauh ini, kata Arif, stok pangan nasional cukup sampai Pemilu 2024.

"Ketersediaan ini kita jaga betul-betul. Kita pengen pesta kerakyatan riang gembira. Jangan ada orang lapar, jangan ada orang sakit, jangan ada orang mengonsumsi pangan nan tidak aman," terangnya.

Bantuan Sosial

Untuk menjaga stabilitas pangan, kata Arief, pemerintah bakal kembali menyalurkan support sosial kepada 20 juta family penerima manfaat.

Akan tetapi, Arief membantah tudingan muatan politis di kembali perpanjangan support pangan beras bagi family penerima faedah hingga Juni 2024 mendatang.

"Ini tidak ada kaitannya sama politik. Dari kemarin-kemarin sudah dikasih (bansos) dan ke depan bakal dikasih lagi sampai Juni tahun depan. Sampai betul-betul kita punya panen nan baik lantaran ada mundur musim tanam 2-3 bulan," ucapnya.

Arief menegaskan program support beras tersebut merupakan upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dan inflasi dari nilai beras. Menurut dia, keputusan perpanjangan support beras itu telah melalui pertimbangan mendalam.

"Kita pastikan penyaluran ke masyarakat selalu tepat sasaran," pungkas Arief. 

Akhir Tahun Harga Beras di Gorontalo Naik Drastis, Ini Penyebabnya

Sebelumnya, kejadian El Nino nan menyebabkan tandus panjang di Provinsi Gorontalo membikin nilai beras sempat menyentuh nomor nan fantastis. Bayangkan, nilai beras nan sebelumnya hanya Rp 650 ribu per karung, naik menjadi Rp 750 ribu per karung.

"Kalau sekarang mulai turun di harganya, tinggal Rp 650 ribu. Bulan lampau saya beli harganya Rp 750 ribu," kata Yurni, salah satu penjual beras eceran.

Menurut dia, dengan nilai seperti itu seakan menyusahkan mereka. Padahal, untung mereka di dalam satu karung itu hanya Rp 30 ribu rupiah.

"Kalau nilai per karung Rp 750 ribu, maka bisa dipastikan kami tidak ada untung lagi," ujarnya.

"Kami juga bingung dengan kondisi saat ini. Kok beras di Gorontalo bisa naik segitu," ungkapnya.

Padahal, wilayah nan dikenal dengan Tanah Serambi Madinah tersebut merupakan merupakan salah satu wilayah penghasil beras. Gorontalo bisa memproduksi beras hingga ratusan ton per tahunnya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Gorontalo tahun 2022 sebesar 240,13 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka itu naik sebanyak 5,74 ribu ton alias 2,45 persen dibandingkan dengan produksi padi di 2021 nan sebesar 234,39 ribu ton GKG.

Lantas apa nan membikin nilai beras di Provinsi Gorontalo naik? Menurut info nan dihimpun Liputan6.com, naiknya nilai diakibatkan permintaan dari wilayah lain nan juga terdampak tandus panjang.

"Banyak permintaan dari luar daerah. Jadinya beras lokal menjadi kosong dan otomatis menjadi mahal," kata salah satu tenaga kerja penyimpanan beras di Gorontalo nan tidak mau menyebut namanya. 

Luas Panen

Sementara tahun 2023, luas panen padi Gorontalo pada 2023 diperkirakan sekitar 48,83 ribu hektare. mengalami kenaikan sebanyak 2,01 ribu hektare alias 4,29 persen dibandingkan luas panen padi di 2022 nan sebesar 46,82 ribu hektare.

Hal tersebut berasas penghitungan BPS Gorontalo mengenai luas panen dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA). KSA ini memanfaatkan teknologi gambaran satelit dengan mendeliniasi peta lahan baku sawah nan divalidasi dan ditetapkan oleh Kementerian ATR/BPN.

Produksi padi pada 2023 diperkirakan sebesar 243,19 ribu ton GKG, mengalami kenaikan sebanyak 3,06 ribu ton GKG alias 1,27 persen dibandingkan produksi padi di 2022 nan sebesar 240,13 ribu ton GKG.

Produksi beras pada 2023 untuk konsumsi pangan masyarakat diperkirakan sekitar 135,79 ribu ton, mengalami kenaikan sebanyak 1,71 ribu ton alias 1,27 persen dibandingkan produksi beras di 2022 nan sebesar 134,08 ribu ton.

Padahal, Gorontalo menjadi salah satu wilayah di Indonesia nan ikut terdampak dengan musim tandus alias El Nino. El Nino merupakan kejadian suasana pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normalnya nan terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.

Sejak Agustus lalu, El Nino sudah melanda sejumlah wilayah nan ada di Indonesia, termasuk Gorontalo. Di sejumlah wilayah Gorontalo juga mengalami krisis air akibat kejadian tersebut. Menariknya, info BPS Gorontalo menunjukan Produksi padi justru ikut meningkat meski musim kemarau.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6