Dihadang Banyak Tantangan, Bos Kadin Pede Ekonomi Indonesia 2024 Moncer

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memprediksi tetap ada sejumlah halangan perekonomian nasional di 2024 mendatang. Namun, perihal itu diyakini tidak terlalu berakibat pada tingkat pertumbuhan ekonomi.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Bobby Gafur Umar mengatakan ada sejumlah sektor nan terkenda akibat dari pelemahan ekonomi global. Di sisi lain, adanya perubahan suku kembang nan ikut berpengaruh.

"Jadi banyak sekali ada aspek yg bisa menghalang salah satunya para pelaku upaya banyak menunda investasi, kemudian aspek nan terjadi juga sisa peralatan nan diproduksi stoknya banyak, sehingga mereka mengurangi produksi," tuturnya di Menara Kadin, Jakarta, ditulis Kamis (23/11/2023).

Namun, dari sisi industri, Bobby memandang kemungkinan penguatan ekonomi, menimbang pula tingkat purchasing managers index (PMI) manufaktur nan tetap menunjukkan ekspansif. Disamping itu, dia juga membidik pertumbuhan ekonomi tetap berkisar 5 persen.

"Kalau kita bisa tutup di nomor 5 persen, prediksi pemerintah juga tahun depan tetap dikisaran 5 persen, rasanya 2024 tetap menjanjikan," kata dia.

Bobby mengatakan, utamanya pada sektor-sektor yany mengenai dengan pasar dalam negeri. Misalnya, makanan dan minuman nan konsumsinya cukup besar untuk dalam negeri.

"Tapi jika sektor nan untuk tujuan ekspor, nah ini nan kita mesti hati-hati lantaran market-nya mengecil dan persaingan nan makin kuat dari negara-negara nan berebut pasar nan semakin mini ini," tuturnya.

Makin Baik

Lebih lanjut, Bobby memandang jika industri makanan minuman bakal semakin baik di 2024 mendatang. Sehingga pertumbuhan ekonomi diprediksi tak terlalu jauh dengan perolehan di 2023.

"Jadi 2024 so far nomor nya mungkin pertumbuhannya gak terlalu jauh dari 2023, tapi beberapa sektor seperti mamin itu makin baik," katanya.

Sementara itu, ada sektor nan bakal tetap tumbuh meski dibayangi oleh besaran suku bunga. Yakni, sektor properti dan kendaraan listrik nan pasarnya mulai terbentuk.

"Kita lihat ada 2 sektor seperti properti dan industri itu mengenai dengan suku bunga, jika suku kembang tinggi itu orang mau angsuran menjadi satu konsideran, memang ada pasar baru, tetapi jumlahnya belum besar ialah di pasar EV alias kendaraan listrik," ungkap Bobby.

Ekonomi Syariah

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa ekonomi syariah dan industri legal telah dipandang sebagai sumber mesin pertumbuhan ekonomi baru, tidak hanya di tingkat domestik, tetapi juga di tingkat global.

Potensi ekonomi syariah terutama pasar legal pun kian membesar. Berdasarkan info Pew Research Center's Forum on Religion and Public Life, populasi masyarakat muslim di bumi pada tahun 2020 mencapai 1,9 milyar jiwa, dan diperkirakan bakal terus bertambah hingga 2,2 milyar jiwa alias 26,5% dari total populasi bumi di tahun 2030.

"Peningkatan nomor tersebut bakal diiringi oleh semakin meningkatnya permintaan terhadap produk dan jasa halal," kata Agus Gumiwang Kartasasmita dalam aktivitas Indonesia Halal Industry Awards 2023, dikutip pada Selasa (24/10/2023).

Agus mengatakan, posisi ekonomi syariah Indonesia di tataran dunia terus meningkat di beragam sektor. Hal itu dibuktikan berasas The State of the Global Islamic Economy Report 2022, Indonesia menempati urutan kedua di tahun 2022 pada sektor makanan legal setelah sebelumnya berada di ranking keempat pada tahun 2021.

Pada sektor modest fashion, Indonesia tetap berada pada tingkat ketiga sepanjang tahun 2021 hingga 2022.

Belum Puas

Namun, pada sektor farmasi Indonesia mengalami penurunan ke ranking 9 di tahun 2022 sementara sebelumnya ada di ranking keenam pada tahun 2021.

"Secara keseluruhan, parameter ekonomi syariah Indonesia menduduki ranking ke-4 di bumi selama tahun 2021 hingga 2022," ujarnya.

"Kalau saya sih belum puas ada di ranking keempat," lanjutnya.

Menanggapi penurunan ranking pada sektor farmasi, Agus mengatakan "Penurunan ini tentu kudu kita cermati. Akan dipelajari negara-negara mana aja nan menyalip Indonesia, dan gimana mereka bisa menyalip kita. Itu kudu kita petakan."

"Sehingga kita ada benchmark, due diligence, kemudian juga jika saya pergunakan istilah ofensif, kita bisa counter attack sehingga setidaknya kita bisa mengembalikan farmasi ke ranking keenam, dan mudah-mudahan bisa meningkat jadi lima besar," tambahnya.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6