Cerita Usaha Kopi Akar Wangi Asal Garut yang Semakin Tumbuh Berkat Program BRI

Sedang Trending 6 bulan yang lalu

Liputan6.com, Garut Setiap wilayah pasti mempunyai potensi upaya nan bisa dikembangkan dan menjadi salah satu jalan untuk mendorong masyarakatnya semakin maju. Ada beragam jenis, hasil bumi nan unik pun jika ditangan nan imajinatif bisa menjadi produk unik, inovatif dan ikonik dari sebuah wilayah. Salah satunya adalah penemuan nan ciptakan oleh masyarakat Kampung Waluran Tonggoh, Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sudah sejak lama masyarakat di wilayah tersebut dikenal dengan profesinya sebagai petani kopi dan akar wangi. Keduanya memang bahan nan berbeda, tapi ketika dikombinasikan bisa menjadi produk minuman dengan citarasa nan khas. Produk itu adalah Kopi Akar Wangi.

Adi Ahmad Nasir (32) menjadi sosok di kembali layar klaster upaya Kopi Akar Wangi nan dikembangkan oleh masyarakat setempat. Sebagai ketua klaster, tekadnya Adi adalah membawa klaster golongan usahanya agar terus bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Ia bercerita tentang gimana awalnya buahpikiran inovatif tersebut muncul nan menjadi kekuatan utama klaster usahanya tersebut. Pada awalnya mempunyai penghasilan dari Kopi Arabika dan akar wangi, sehingga muncul wacana untuk membikin campuran antara kopi dan akar wangi. Ide sudah ada sejak tahun 2015, namun baru mulai upaya pengolahan dua tahun kemudian.

“Mulai tahun 2017 sudah dimulai upaya pengolahan kopi akar wangi, tapi jika idenya sudah ada sejak 2015. Namun, saat itu tetap belum sebesar sekarang. Sejak mendapat support dari BRI, upaya kita meningkat. Kita banyak mendapatkan support mulai dari pemasaran, kemasan, label legal dan label lainnya. Alhamdulillah berkah dibantu oleh BRI, jika dulu hanya dikonsumsi sendiri alias dijual ke kedai, sekarang pemasarannya lebih berkembang,” kata Adi.

Klaster Usaha Kopi Akar Wangi

Klaster upaya Kopi Akar Wangi ini sudah berkembang menjadi 14 golongan usaha. Seiring dengan berjalannya waktu, klaster upaya ini memberikan akibat positif untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. Bahkan kapabilitas pengelolaannya meningkat pesat.

“Alhamdulillah banyak akibat untuk kesejahteraan kelompok. Kalau dulu hanya sedikit, sekarang sudah nambah klaster personil kelompok. Selain itu juga ada peningkatan ekonomi, jika dulu kita hanya mengelola 10-50 kg saja, sekarang Alhamdulillah sudah bisa 1-2 kuintal,” lanjutnya.

Untuk proses pembuatan Kopi Akar Wangi, Adi menceritakan jika pembuatannya nyaris sama dengan kopi biasa hanya melibatkan 2 (dua) tahapan yaitu, pertama adalah proses pembuatan kopi itu sendiri dimana setelah panen, biji kopi dicuci, dijemur dan dimasukkan ke mesin pulper untuk dipisahkan dari bijinya. Proses kedua adalah di-roasting dan di-grinder hingga menjadi serbuk. Setelah menjadi serbuk kemudian dicampurkan dengan akar wangi.

Sementara itu, pengolahan akar wangi juga dilakukan dengan langkah nan nyaris sama. Akar wangi nan panen sekitar 10-12 bulan sekali itu diambil akarnya, lampau dicuci sampai bersih dan dijemur. Setelah itu, proses grinder pun dilakukan untuk menjadikannya serbuk sehingga bisa dicampurkan dengan serbuk kopi. Seluruh proses pembuatan kopi akar wangi ini dilakukan di sebuah greenhouse yang lokasinya berada di dekat desa wisata.

“Lokasi ini memang sengaja kita pilih biar ada pemasukan. Jadi jika berjamu ke desa wisata itu bisa juga memandang proses pembuatan kopi akar wangi mulai dari penjemuran, hulu sampai hilir bisa. Buat minuman di desa wisata itu sendiri juga kita diwajibkan menggunakan kopi akar wangi,” jelas Adi.

Produk nan dihasilkan oleh Klaster Usaha Kopi Akar Wangi ini dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES).

“Kalau ada aktivitas di BUMDES, produk kita juga bisa jadi oleh-oleh alias souvenir,” imbuhnya.

Dukungan BRI Dorong Klaster Semakin Berkembang

Adi menceritakan BRI punya peran besar dalam mendorong Klaster Usaha Kopi Akar Wangi semakin berkembang hingga saat ini. Semua berasal saat Desa Sukalaksana mengikuti program Desa BRILian, bisa masuk nominasi hingga menjadi juara nan membuatnya kemudian menjadi desa bimbingan BRI.

Setelah itulah, kesempatan pemberdayaan masyarakat desa semakin terbuka lebar untuk mengembangkan produk Kopi Akar Wangi.

“Kalau corak support dari BRI berupa sarana dan prasarana dalam menjalankan Klaster Usaha Kopi Akar Wangi ini. Kita mendapatkan support greenhouse hingga alat-alat dari hulu sampai hilir. Dari mulai hulu itu misalnya alat-alat dari proses panen, perangkat pengolahan, hingga pengemasan di hilirnya, semuanya adalah support dari BRI,” ungkap Adi.

Selain sarana dan prasarana, mereka juga mendapatkan training serta pendampingan mengenai dengan pengelolaan hingga pemasaran agar bisa menjadi klaster upaya nan mandiri.

“Kami juga sudah mempunyai outlet coffee shop modern di Rest Area Parabon. Kalau dulu kita hanya bisa menjual, sekarang kita sudah punya hilirnya, sudah punya alat-alatnya, jadi kita buat coffee shop juga,” terangnya.

Selain itu, jika ada aktivitas nan digelar oleh BRI, Klaster Kopi Akar Wangi juga selalu diundang dan ditampilkan sebagai produk bimbingan BRI. Hal ini juga menjadi upaya memperkenalkan klaster upaya tersebut ke masyarakat nan lebih luas.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa program Klaster Usaha ‘Klasterku Hidupku’ menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya. Lewat beragam aktivitas pendampingan tersebut, pelaku UMKM bisa mendapatkan kesempatan mengembangkan produknya.

“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM, tidak hanya berupa modal upaya saja tapi juga melalui pelatihan-pelatihan upaya dan program pemberdayaan lainnya sehingga UMKM dapat terus tumbuh dan semakin tangguh,” ungkapnya.

(*)

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6