Cegah Kelangkaan, Peritel Minta Pemerintah Relaksasi HET Bahan Pokok

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah bahan pokok terus mengalami kenaikan sepanjang Januari hingga awal Februari 2024. Tercatat, bahan pokok nan mengalami kenaikan antara lain beras, gula dan minyak goreng. 

Menindaklanjuti perihal tersebut, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta Pemerintah untuk merelaksasi harga satuan tertinggi (HET) sejumlah bahan pokok.

Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey menjelaskan, sejumlah harga bahan pokok telah melampaui HET. Oleh sebab itu, perubahan HET diperlukan agar peritel dapat terus menyediakan bahan pokok guna mencegah kekosongan alias kelangkaan di gerai-gerai ritel modern.

"Kami memerlukan sikap Pemerintah dan pihak berkuasa untuk merelaksasi pula patokan main HET nan ditetapkan sehingga peritel dapat terus membeli, menyediakan dan menjual kebutuhan pokok bagi masyarakat," ujar Roy dikutip dari Antara, Minggu (11/2/2024).

Relaksasi ini pun bermaksud untuk mencegah kekosongan dan kelangkaan bahan pokok, terlebih pada Februari 2024 para peritel mulai melakukan pembelian dari produsen guna persiapan pasokan Ramadhan dan Idul Fitri di gerai ritel modern.

Aprindo juga meminta agar ada koordinasi dan komunikasi nan intensif antara kementerian/lembaga dengan para pelaku upaya di sektor hulu (produsen) hingga hilir (peritel) untuk menghadirkan kebijakan nan berorientasi pada urgensi dan solusi adaptif.

"Maka persoalan anomali nilai bahan pokok dapat terkelola dan terkendali dengan baik," kata Roy.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Bisa Sebabkan Kelangkaan

Diketahui, sejumlah bahan pokok seperti beras mengalami kenaikan di beragam wilayah Indonesia. Kenaikan ini dipicu oleh tingginya permintaan konsumen dibandingkan dengan kesiapan barang.

Aprindo juga menyebut bahwa kenaikan nilai disebabkan oleh produsen nan meningkatkan nilai di atas HET, sehingga peritel terpaksa ikut menyesuaikan dengan nilai beli (tebus).

Roy menyampaikan, kenaikan nilai dari produsen dapat menyebabkan kekosongan alias kelangkaan bahan pokok di gerai ritel modern Indonesia.

Menurut Roy, kelangkaan nan terjadi di kemudian hari bisa menimbulkan panic buying alias pembelian secara berlebihan lantaran takut kekurangan stok.

Pada peritel saat ini disebut mulai kesulitan mendapatkan suplai beras untuk jenis premium lokal bungkusan 5 kilogram. Keterbatasan ini disebabkan lantaran masa panen diperkirakan baru bakal terjadi pada pertengahan Maret 2024.

Selain itu, belum masuknya beras jenis medium (SPHP) nan diimpor pemerintah juga menjadi penyebab kelangkaan dan tingginya nilai beras.

"Situasi dan kondisi nan tidak seimbang antara suplai dan demand inilah nan mengakibatkan kenaikan HET beras pada pasar ritel modern dan pasar rakyat," kata Roy.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6