Bos ECB Ungkap Krisis Membayangi Ekonomi Zona Euro

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengungkapkan bahwa perekomonian Eropa sekarang berada pada titik kritis, dengan deglobalisasi, demografi, dan dekarbonisasi nan bakal segera terjadi.

"Ada semakin banyak tanda-tanda bahwa perekonomian dunia terpecah menjadi blok-blok nan saling bersaing," ungkap Lagarde di Kongres Perbankan Eropa, menurut sebuah transkrip, dikutip dari CNBC International, Selasa (21/11/2023).

Berfokus pada Eropa, Lagarde mengatakan bahwa penurunan terus-menerus dalam populasi usia kerja tampaknya bakal terjadi pada awal tahun 2025, berbarengan dengan musibah suasana nan meningkat setiap tahunnya.

"Ketika halangan perdagangan baru muncul, kita perlu menilai kembali rantai pasokan dan berinvestasi pada rantai pasokan baru nan lebih aman, efisien, dan lebih dekat dengan negara kita," jelas Lagarde dalam pidato utamanya.

"Seiring dengan bertambahnya usia masyarakat, kita perlu menerapkan teknologi baru sehingga kita dapat menghasilkan output nan lebih besar dengan jumlah pekerja nan lebih sedikit. Digitalisasi bakal membantu. Dan ketika suasana kita memanas, kita perlu mempercepat transisi ramah lingkungan tanpa penundaan lebih lanjut," bebernya.

Transisi Hijau

Lagarde lebih lanjut mengatakan bahwa perkiraan menunjukkan transisi hijau nan direncanakan oleh Uni Eropa bakal memerlukan investasi tambahan sebesar 620 miliar euro setiap tahun hingga akhir dasawarsa ini, dan tambahan 125 miliar euro per tahun untuk transisi digital.

"Pemerintah mempunyai tingkat utang tertinggi sejak Perang Dunia Kedua, dan pendanaan pemulihan Eropa bakal berhujung pada tahun 2026. Bank bakal mempunyai peran sentral, namun kita tidak dapat mengharapkan mereka mengambil begitu banyak akibat pada neraca mereka," imbuh Lagarde, menyoroti usulan serikat pasar modal.

Eropa Diramal Masuk Jurang Resesi di Kuartal Akhir 2023

Sebuah survei menunjukkan ada kemungkinan besar terjadinya resesi di Eropa, menyusul penurunan keahlian upaya area euro bulan lalu.

Seperti diketahui, perekonomian Wropa mengalami kontraksi 0,1 persen pada kuartal III 2023, dan Indeks Manajer Pembelian Gabungan (PMI) akhir untuk bulan Oktober menunjukkan bahwa blok tersebut memasuki kuartal terakhir tahun 2023 dalam kondisi nan tidak menguntungkan.

Melansir US News, Selasa (7/11/2023) PMI HCOB nan disusun oleh S&P Global, dan dipandang sebagai pedoman kesehatan ekonomi secara keseluruhan, turun menjadi 46,5 pada bulan Oktober dari 47,2 pada bulan September.

Ini merupakan nomor terendah sejak November 2020 ketika pembatasan COVID-19 diperketat di sebagian besar wilayah Wropa.

Angka tersebut juga berada di bawah nomor 50 nan memisahkan pertumbuhan dan kontraksi selama lima bulan berturut-turut dan sesuai dengan perkiraan awal.

"PMI final nan dirilis hari ini mengkonfirmasi perkiraan awal dan konsisten dengan perkiraan kami bahwa PDB area euro bakal berkontraksi lagi di kuartal keempat," kata Adrian Prettejohn dari Capital Economics.

"Prospeknya juga terlihat sangat lemah, dengan PMI pesanan baru nan jatuh ke level terendah sejak September 2012, tidak termasuk bulan-bulan awal pandemi, sementara ekspor juga sangat lemah," bebernya.

Survei serupa juga menunjukkan aktivitas manufaktur Eropa mengalami penurunan lebih lanjut pada Oktober 2023, di mana pesanan mengalami kontraksi pada tingkat nan paling tajam sejak tahun 1997.

Hal serupa juga terjadi pada sektor jasa dan indeks upaya baru, nan merupakan ukuran permintaan, berada pada titik terendah sejak awal tahun 2021 lantaran konsumen nan berhutang merasa terbebani oleh kenaikan nilai dan meningkatnya biaya pinjaman.

Aktivitas jasa di Jerman, negara perekonomian terbesar di Eropa, kembali mengalami kontraksi pada Oktober 2023 lantaran permintaan terus melemah, sementara di Perancis kembali menyusut.

Penurunan aktivitas jasa juga terjadi di Italia dengan kontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Namun Spanyol melawan tren tersebut dan sektor jasanya tumbuh sedikit lebih sigap pada bulan lalu.

Bank Sentral Eropa Pertahankan Suku Bunga

Bulan lalu, Bank Sentral Eropa mempertahankan suku kembang tidak berubah pada rekor tertinggi, mengakhiri kenaikan suku kembang berturut-turut sebanyak 10 kali berturut-turut.

Namun, ECB menegaskan bahwa pembicaraan pasar mengenai penurunan suku kembang tetap terlalu dini.

Para pengambil kebijakan diperkirakan bakal menyambut melemahnya tekanan nilai nan ditunjukkan dalam survei PMI, lantaran indeks nilai input dan output turun dari pembacaan bulan September. 

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6