Bangun TPST Sangatta, Cara Kaltim Prima Coal Kembangkan Ekonomi Sirkular

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta PT BUMI Resources Tbk. (BUMI) melalui anak usahanya PT Kaltim Prima Coal (KPC) menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dalam membangun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST). TPS ini berkonsep Eco Waste. 

Dibangun di atas lahan 1800 meter persegi dengan anggaran CSR senilai Rp 16,9 miliar, nan meliputi mesin Rp 13,5 miliar, gedung Rp 1,9 miliar dan pendampingan selama satu tahun serta biaya lain mencapai Rp 1,5 miliar.

Pengelolaan TPST telah diserahterimakan kepada Pemkab Kutai Timur pada 27 Januari 2022 lalu. Sementara untuk kebutuhan bayaran bulanan para pekerja TPST saat ini sudah dianggarkan dalam APBD Kutai Timur.

KPC menyatakan support pada pengembangan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah menjadi kondisi zero waste.

“Kami belajar dari pengetahuan kelapa nan semua bagiannya bisa digunakan dan tidak ada nan terbuang,“ tutur Wawan Setiawan, General Manager for External Affairs and Sustainable Development (ESD) KPC.

Dia menyebut bahwa ekonomi sirkular bukan hanya tentang pengelolaan limbah nan lebih baik dengan lebih banyak melakukan daur ulang, namun juga mencakup serangkaian intervensi di semua sektor ekonomi, seperti efisiensi sumber daya dan pengurangan emisi karbon.

Wawan mengatakan, program pengelolaan sampah ini dikembangkan lantaran sebagian besar sampah dihasilkan oleh penduduk kota nan notabene adalah bagian dari KPC sendiri.

"Para kontraktor KPC, dan juga masyarakat umum lainnya. Program TPST ini bisa mengolah sampah menjadi menjadi bahan organik dan anorganik untuk pemanfaatan lebih lanjut,” jelasnya.

Sebagai induk upaya KPC, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) terus menegaskan komitmen di bagian lingkungan melalui beragam tindakan nyata.

Presiden Direktur BUMI Adika Nuraga Bakrie menyatakan turut senang dan bangga dapat berkontribusi untuk Sangatta.

“Kolaborasi antara KPC dan Pemkab Kutai Timur membuktikan bahwa BUMI berkomitmen menerapkan norma terbaik dalam bagian pengelolaan lingkungan,” ucapnya.

Tak hanya sekedar komitmen, namun prinsip ini juga telah menjadi core competence pada perusahaan sehingga dapat melakukan praktik terbaik dan memberikan kontribusi terhadap perwujudan SDGs dan ESG (Environmental, Social dan Governance). “Kami percaya dapat memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan dan masyarakat sekitar,” imbuhnya.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6