Amazon Ingatkan Karyawan yang Tak Kembali Bekerja di Kantor Bakal Sulit Dapat Promosi

Sedang Trending 6 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Amazon sekali lagi menggandakan mandatnya kepada tenaga kerja untuk kembali bekerja di kantor. Amazon memperingatkan tenaga kerja jika ketidakpatuhan berakibat pada kesempatan untuk dipromosikan.

Dikutip dari CNN, ditulis Minggu (19/11/2023), karyawan nan tidak teratur bekerja di instansi setidaknya tiga hari seminggu bakal mendapati setiap potensi promosi bakal tunduk pada tambahan persetujuan pimpinan.

"Ada beragam aspek nan kami pertimbangkan ketika menentukan kesiapan tenaga kerja untuk tingkat berikutnya,” ujar Juru Bicara Amazon Brad Glasser.

“Seperti perusahaan mana pun, kami mengharapkan tenaga kerja nan dipertimbangkan untuk dipromosikan kudu mematuhi pedoman dan kebijakan perusahaan,” Glasser menambahkan.

Pada Februari, sekitar tiga tahun setelah dimulainya era bekerja dari rumah nan awalnya disebabkan oleh pandemi COVID-19, CEO Andy Jassy menuturkan, staf diminta untuk kembali ke instansi setidaknya tiga hari seminggu mulai Mei 2023. "Berkolaborasi dan menciptakan penemuan menjadi lebih mudah dan efektif jika dilakukan secara langsung,” ujar Jassy.

Seperti kebanyakan bumi usaha, Amazon hadapi penolakan dari tenaga kerja terhadap mandat ini. Pada akhir Mei, beberapa pekerja perusahaan melakukan mogok di kantor pusat Amazon di Seattle dengan argumen beragam keluhan termasuk dorongan pekerja kembali bekerja di instansi setidaknya tiga hari dalam seminggu.

Pemogokan pada Mei juga terjadi beberapa bulan setelah perusahaan konfirmasi jika memberhentikan sekitar 27.000 pekerja lantaran beberapa kali PHK.

Sementara itu, pada Agustus, Amazon mengirimkan email peringatan kepada beberapa pekerja nan menyatakan tidak mematuhi kebijakan kembali ke kantor. Perseroan mengatakan, mereka mempunyai kebijakan permintaan pengecualian kerja jarak jauh nan dipertimbangkan berasas kasus per kasus.

Amazon PHK Lagi, Kali Ini 180 Karyawan di Unit Game

Sebelumnya diberitakan, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kembali melanda raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Amazon. Kali ini, PHK terjadi pada tenaga kerja Amazon di unit gaming.

Melansir BBC, Rabu (14/11/2023) Amazon menjadi perusahaan terbaru nan melakukan PHK di industri game, memangkas 180 tenaga kerja di tengah restrukturisasi.

Amazon, nan mempunyai situs streaming game Twitch, juga menutup salurannya sendiri di platform tersebut setelah kesulitan mendapatkan popularitas.

Dalam sebuah email kepada stafnya, Amazon mengatakan PHK tersebut merupakan bagian dari upaya restrukturisasi.

"Setelah restrukturisasi awal kami pada bulan April, menjadi jelas bahwa kami perlu lebih memfokuskan sumber daya kami pada area nan mempunyai potensi pertumbuhan tertinggi untuk memajukan upaya kami," tulis wakil presiden Amazon, Games Christoph Hartmann dalam pesan tersebut.

Namun dia juga mengatakan perusahaannya sedang merekrut posisi lain di bagian game.

PHK di Amazon

PHK di Amazon terjadi di tengah banyaknya pemberhentian tenaga kerja di industri teknologi AS di tahun 2023, dengan Amazon sendiri nan telah memangkas lebih dari 25.000 pekerjanya.

Ini adalah pemutusan hubungan kerja terbaru nan menimpa industri game pada tahun 2023, nan telah menyebabkan sekitar 6.500 orang kehilangan pekerjaan.

Hal ini terjadi meskipun tahun ini adalah tahun peluncuran game-game terkenal dari waralaba termasuk Zelda, Spider-Man, dan Mario Bros.

Dalam enam bulan terakhir, perusahaan game termasuk kreator Fortnite Epic Games, developer Assassin's Creed Ubisoft Montreal, dan pembuat Pokemon Go Niantic semuanya telah mengumumkan Pemutusan Hubungan Kerja.

Didirikan pada 2012

Amazon Games didirikan pada 2012.Unit game ini awalnya membikin game untuk perangkat seluler, namun sejak itu berkembang menjadi game nan lebih besar termasuk game online New World dan Lost Ark.

Pada 2022, perusahaan mengumumkan bakal menerbitkan game pemain tunggal baru berasas franchise ikonik Tomb Raider, dan pada bulan Mei dikatakan bahwa mereka sedang mengembangkan game berasas Lord of the Rings.

Christopher Dring, kepala situs buletin game GamesIndustry.biz, mengatakan hilangnya pekerjaan di industri game akibat dari perekrutan massal nan terjadi pada awal pandemi pada tahun 2020.

"Saat orang-orang terjebak di rumah, mereka beranjak ke video game, tidak hanya untuk intermezo tetapi juga untuk terhubung dan bermain bersama,” katanya.

Perusahaan Miliarder Jeff Bezos Dilanda Badai PHK Lagi, Kali Ini Amazon Music

Sebelumnya diberitakan, Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Amazon kembali melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). PHK kali ini berakibat lada tenaga kerja di unit musik Amazon, menurut keterangan perusahaan pada hari Rabu (8/11).

Mengutip Fox News, Kamis (9/11/2023) sumber mengenai berita PHK di Amazon mengatakan bahwa beberapa tenaga kerja Amazon Music dari Amerika Latin, Amerika Utara, dan Eropa telah diberitahu bahwa posisi mereka telah diberhentikan.

Juru bicara Amazon membenarkan adanya PHK di bagian tersebut namun menolak mengungkapkan jumlah tenaga kerja nan diberhentikan.

"Kami telah memantau dengan jeli kebutuhan organisasi kami dan memprioritaskan apa nan paling krusial bagi pengguna dan kesehatan upaya kami dalam jangka panjang,” kata ahli bicara tersebut dalam sebuah pernyataan.

"Beberapa peran telah dihilangkan di tim Amazon Music. Tetapi kami bakal terus berinvestasi di Amazon Music," jelasnya.

PHK tersebut merupakan nan terbaru dari serangkaian pemangkasan nan dilakukan Amazon selama setahun terakhir, nan berakibat pada lebih dari 27.000 tenaga kerja di raksasa ritel e-commerce tersebut.

 Perusahaan nan didirikan miliarder Jeff Bezos itu melakukan banyak perekrutan selama pandemi ini, namun Presiden dan CEO Andy Jassy memperingatkan karyawannya tahun lampau bahwa jumlah tenaga kerja bakal dipangkas dan PHK bakal bersambung hingga tahun 2023.

Dalam laporan pendapatan terbarunya bulan lalu, Amazon mengungkapkan kenaikan pendapatan sebesar 13 persen menjadi USD 143,1 miliar untuk kuartal ketiga, melampaui perkiraan Wall Street sebesar USD 141,41 miliar.

Raksasa e-commerce ini juga memperkirakan peningkatan pendapatan liburan pada akhir 2023.

"Perlambatan nan dialami raksasa ritel tahun lampau tampaknya sudah mulai terlihat lantaran mereka telah memulai pemotongan biaya nan signifikan sepanjang tahun ini dan mempertajam fokusnya pada bagian pertumbuhan utama," kata analis Insider Intelligence Zak Stambor, dalam reaksinya terhadap pendapatan tersebut.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Sumber Bisnis LP6
Bisnis LP6